Liputan6.com, Jakarta - Menjalani pengobatan kanker bukan hanya soal menghadapi prosedur medis. Bagi penyintas kanker payudara, misalnya, perjalanan tersebut juga dipenuhi rasa takut, cemas, bingung, hingga kekhawatiran setelah menerima diagnosis.
Hal itu dirasakan Ferita Deasy ketika mengetahui dirinya mengidap kanker payudara stadium 4. Diagnosis tersebut datang ketika usianya memasuki 40 tahun, setelah dia menemukan benjolan kecil pada payudaranya.
Advertisement
Ferita tidak ingin menunda pemeriksaan. Dia segera mencari kepastian mengenai benjolan tersebut karena merasa kondisi itu perlu diperiksa sejak awal.
"Awal memang dikira kayaknya bentuknya bagus, aman. Tapi hati saya tergerak, ini harus dipastikan. Mumpung masih tahu dari awal," ujar Ferita Deasy, penyintas kanker payudara yang tergabung dalam Komunitas Love Pink.
Namun, pemeriksaan justru menunjukkan bahwa kanker yang dialaminya sudah berada pada stadium 4. Saat itu, Ferita mengaku masih menangis, bingung, dan terus memikirkan kondisinya.
Pada 2023, Ferita bahkan harus terbang ke Kuala Lumpur untuk menjalani PET scan karena menurut pengalamannya saat itu, dia harus menunggu sekitar satu bulan untuk mendapatkan pemeriksaan tersebut di Tanah Air.
"Dengan masih menangis, bingung, galau, segala macam. Nggak berhenti berpikir," tambahnya.
Tidak Lagi Merasa Sendirian
Bergabung dengan komunitas menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Ferita menghadapi kanker payudara. Dari komunitas, dia mendapatkan informasi dan dukungan ketika harus menentukan langkah pemeriksaan maupun pengobatan.
Ferita sempat mempertimbangkan untuk melanjutkan pengobatan di luar negeri. Namun, setelah mendapatkan berbagai informasi dan pengalaman dari anggota Love Pink, dia memutuskan kembali ke Jakarta untuk menjalani perawatan.
"Saya tahu bahwa nggak ada salahnya juga kok kita berjuang di Indonesia," ujar Ferita.
Bagi Ferita, dukungan lingkungan juga sangat berarti. Dia mengaku sempat merasa seolah tidak bisa berjalan setelah mengetahui adanya kanker di tulang.
"Saya langsung ter-suggest-ing nggak bisa jalan. Anehnya begitu memang. Jadi lingkungan yang baik itu bagus," katanya di sela-sela acara 'Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Lovepink Perkuat Kolaborasi untuk Komunitas Kanker Payudara' belum lama ini.
Pengalaman tersebut membuat Ferita semakin merasakan pentingnya berada di lingkungan yang memberikan dukungan positif selama menjalani pengobatan.
Para Penyintas Dapat Saling Memahami
Hal serupa juga menjadi bagian dari kekuatan yang dibangun Komunitas Love Pink. Vice Chairwoman Love Pink, Anita D. Sulistyowati, mengatakan pengalaman yang sama membuat para penyintas dapat saling memahami.
"Kita pernah merasakan, kita pernah ada di posisi seperti teman kita yang baru bergabung tersebut. Jadi, saat mereka bercerita, kita pun menyambutnya karena kita paham, kita tahu. Jadi, mereka itu lebih merasa diterima," ujar Anita.
Menurut Anita, kehadiran penyintas lain juga dapat memberikan harapan kepada anggota yang baru menerima diagnosis kanker.
Mereka dapat melihat secara langsung bahwa ada orang yang tetap menjalani kehidupan bertahun-tahun setelah mendapatkan diagnosis.
"Ada harapan bahwa 'Oh ya, berarti saya bisa seperti Kakak'. Bisa," kata Anita.
Dia mencontohkan salah satu anggota Love Pink yang telah bertahan hidup selama 28 tahun. Kisah tersebut menjadi penguatan bagi anggota lain yang sedang menjalani pengobatan.
Ubah Mindset Saat Jalani Pengobatan
Dukungan Love Pink tidak berhenti pada berbagi pengalaman. Komunitas tersebut juga membantu anggotanya mengubah cara pandang terhadap proses pengobatan kanker.
Anita mengatakan bahwa para anggota menggunakan istilah tertentu agar suasana menjalani pengobatan terasa lebih positif. Kemoterapi, misalnya, disebut sebagai party atau beauty treatment.
"Kalau kita mau kemoterapi, kita bilangnya party atau beauty treatment. Kenapa party? Karena kan itu cairannya warna-warni," ujar Anita.
Para anggota juga tetap berdandan dan menggunakan lipstik sebelum menjalani pengobatan.
"Karena kita berdandan itu sebetulnya buat diri kita, ya, bukan buat orang lain. Kalau kita merasa kita segar, kita percaya diri," katanya.
Bahkan, ketika harus menjalani rawat inap, anggota Love Pink menyebutnya sebagai staycation. Sementara pergi ke rumah sakit disebut "ngampus".
Menurut Anita, cara tersebut bukan berarti mengabaikan beratnya pengobatan kanker. Pendekatan itu justru menjadi bagian dari upaya membangun rasa percaya diri dan membuat penyintas menyadari bahwa mereka tidak menjalani perjalanan tersebut sendirian.
"Dan itu membuat teman-teman akhirnya percaya diri dan merasa bahwa kita enggak sendiri," ujar Anita.
Bagi Ferita sendiri, dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menghadapi kanker payudara stadium 4. Setelah menjalani rangkaian pengobatan, dia kini tetap melakukan pemeriksaan secara berkala.
"Saya merasakan sangat-sangat tertolong sekali dengan perhatian para dokter dan perawat di sini. Puji Tuhan, saya sudah selesai treatment semua," ujar Ferita.
Kolaborasi untuk Pasien Kanker yang Lebih Baik
Perjalanan menghadapi kanker payudara tidak berhenti setelah diagnosis dan pengobatan. Pemeriksaan lanjutan, pemantauan kondisi, hingga dukungan selama masa pemulihan tetap menjadi bagian penting bagi pejuang (warriors) dan penyintas (survivors) kanker.
Memahami kebutuhan tersebut, Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS), flagship unit Mayapada Healthcare, berkolaborasi dengan Lovepink (Yayasan Daya Dara Indonesia) untuk memperluas akses anggota komunitas terhadap layanan onkologi yang komprehensif, terintegrasi, dan berstandar internasional.
Hospital Director MHJS, dr. Fiktorius Kuludong, M.M., mengatakan, cancer care bukan hanya tentang mengobati penyakit, tapi juga memastikan pasien memperoleh dukungan yang tepat di setiap tahap perjalanan pengobatan.
"Bagi Mayapada Hospital, cancer care bukan hanya tentang mengobati penyakit, tapi memastikan pasien mendapatkan dukungan yang tepat di setiap tahap perjalanannya," ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, anggota Lovepink, baik warriors maupun survivors kanker payudara, dapat mengakses layanan komprehensif Oncology Center MHJS, termasuk Breast Unit yang mencakup skrining, diagnosis, penanganan keganasan, terapi, hingga pemantauan dan tindak lanjut perawatan.