Liputan6.com, Tangerang - Tidur bukan sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sepanjang hari. Bagi otak, tidur menjadi bagian penting untuk beristirahat sekaligus 'bersih-bersih'.
Untuk bisa mendapatkan manfaat tidur, orang dewasa butuh tidur sekitar 6-8 jam tiap malam. Namun, durasi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kualitas tidur dan arsitektur tidur juga berperan dalam menentukan apakah seseorang mendapatkan tidur yang berkualitas seperti disampaikan dokter spesialis neurologi, Oktaviana Niken dari Seraphim Medical Center.
Advertisement
"Dalam suatu periode tidur yang benar dan ideal, diperlukan minimal 3 atau 4 kali periode light sleep dan deep sleep yang bergantian. Itu untuk memenuhi kualitas tidur yang sehat," tutur Niken.
Saat seseorang kurang tidur satu malam memang tidak masalah. Namun bila seseorang terus kurang tidur dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan tubuh.
Kurang tidur berulang dapat meningkatkan stres dan hormon kortisol. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan fungsi memori seseorang.
"Dan untuk selanjutnya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan turut berkontribusi terhadap penyakit metabolik di masa depan," katanya dalam peluncuran Brain Wellness and Sleep Center di Seraphim Medical Center, Gading Serpong, Tangerang pada Rabu (30/9/2026).
Salah satu tanda Anda mendapatkan tidur berkualitas adalah dari yang dirasakan tubuh. Bila saat bangun tidur merasa siap untuk menjalani hari itu merupakan tanda sudah mendapatkan tidur yang baik.
Kesehatan Otak Perlu Dijaga Sejak Dini
Bila ingin mengetahui kondisi kesehatan otak secara lebih menyeluruh, pemeriksaan dapat dilakukan dengan sejumlah teknologi. Salah satunya adalah qEEG Brain Mapping berfungsi memetakan aktivitas gelombang otak untuk mendeteksi sejak dini pola yang berkaitan dengan gangguan tidur, stres, maupun risiko penurunan fungsi kognitif.
Bila memang ingin melatih otak untuk memperbaiki pola gelombang yang tidak seimbang guna meningkatkan fokus, kualitas tidur, dan regulasi emosi bisa dengan Neurofeedback.
"Neurofeedback itu bentuknya seperti main game, tapi disitu dinilai untuk konsentrasi, dimana pada saat kamu tidak konsentrasi, goal-nya tidak akan tercapai. Jadi, disitu untuk melatih konsentrasi," tutur Niken.
Teknologi tersebut dihadirkan sebagai bagian dari layanan Brain Wellness and Sleep Center untuk membantu pemeriksaan dan pemeliharaan kesehatan otak serta tidur seperti disampaikan Direktur Sales, Marketing & Business Development Bethsaida Healthcare, Iwan A. Setiawan.
“Kami untuk menghadirkan layanan kesehatan otak dan tidur yang terintegrasi dan berstandar internasional," kata Iwan.