Bagi Tugas Rumah Tangga, Jangan Bebankan pada Satu Pihak

Pekerjaan rumah tangga seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, dan tidak membebankan pada satu pihak saja.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 15 Oktober 2026, 17:00 WIB
Menjaga keharmonisan suami dan istri dimulai dari bekerja sama dalam berbagi urusan dan pekerjaan rumah tangga. | unsplash.com

Liputan6.com, Jakarta - Hubungan pernikahan tidak hanya diisi dengan cinta, tetapi juga kerja sama, salah satunya dalam urusan keperluan dan pekerjaan rumah tangga. Untuk menghindari perdebatan, pasangan perlu membicarakan hal ini sejak awal, agar pekerjaan rumah tangga tidak bertumpu di satu pihak.

Terapis Chamin Ajjan, LCSW, A-CBT, CST, menyarankan pasangan untuk mengutamakan pembagian yang adil daripada sekadar membagi tugas dalam jumlah yang sama.

“Utamakan keadilan daripada sekadar kesetaraan,” ujarnya, mengutip Brides, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, setiap pekerjaan membutuhkan waktu, perencanaan, dan frekuensi yang berbeda. Seiring dengan kesibukan kerja, tanggung jawab keluarga, serta mengasuh anak juga dapat membuat pembagian tugas secara persis sama sulit diterapkan.

Membagi Pekerjaan Rumah dengan Adil

Terapis Hope Kelaher, LCSW, menambahkan bahwa pembagian pekerjaan rumah tangga dapat disesuaikan dengan waktu yang dimiliki masing-masing pasangan.

Misalnya, pasangan yang bekerja dari rumah dapat mencuci pakaian di sela pekerjaan, sedangkan pasangan yang memiliki jadwal kerja akhir pekan bisa berbelanja kebutuhan rumah sepulang kerja.

Kelaher menyarankan pasangan untuk mendiskusikan suasana rumah yang ingin mereka temui setelah melewati hari kerja yang melelahkan. Kesamaan pandangan ini dapat membantu menentukan standar kebersihan dan kenyamanan yang realistis bagi keduanya.

Langkah berikutnya adalah membuat daftar pekerjaan rumah secara terperinci. Daftar tersebut tidak hanya mencakup pekerjaan harian, seperti mencuci piring dan menyapu, tetapi juga tugas mingguan, bulanan, bahkan tahunan.

Setelah itu, pasangan dapat membagi pekerjaan berdasarkan kemampuan, preferensi, dan luangnya waktu.

Ajjan turut mengingatkan agar pasangan tidak terpaku pada stereotip gender ketika menentukan siapa yang mengerjakan tugas tertentu. Dalam arti lain, pekerjaan memasak bukan hanya terpaku pada perempuan, atau memperbaiki mesin menjadi tugas laki-laki.

Keterampilan baru juga dapat dipelajari selama proses pembagian tanggung jawab, serta tentunya kesepakatan bersama.

Menurut Ajjan, kesepakatan mengenai standar minimum pekerjaan rumah dapat mengurangi kesalahpahaman, rasa kesal, dan konflik yang tidak perlu.

Evaluasi Rutin untuk Mencegah Konflik

Pembagian tugas tidak harus bersifat permanen, justru cenderung dinamis. Hal tersebut bisa menyesuaikan karena adanya jadwal kerja, kondisi kesehatan, atau tanggung jawab keluarga.

Kelaher menyarankan obrolan rutin setiap minggu untuk mengevaluasi tugas yang berjalan baik maupun yang masih menjadi kendala.

Waktu ini juga dapat digunakan untuk membicarakan kebutuhan dan apa yang dirasakan satu sama lain dalam hubungan.

Dalam kondisi tertentu, bantuan dari luar, seperti jasa kebersihan atau layanan belanja kebutuhan rumah, juga dapat menjadi pertimbangan jika memang dibutuhkan.

Pembagian pekerjaan rumah ini bukan sekadar persoalan siapa yang mencuci atau membersihkan rumah.

Komunikasi yang terbuka, kesepakatan, dan kesediaan untuk saling menyesuaikan dapat membantu pasangan merasa didukung dalam menjalani kehidupan bersama.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya