Sering Berpura-pura Demi Disukai Orang Lain Bisa Bikin Kesepian

Sering berpura-pura demi disukai orang lain? Kenali dampaknya terhadap kesepian dan jati diri Anda.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 28 Oktober 2026, 11:00 WIB
Terlalu sering berpura-pura menyukai sesuatu demi diterima orang lain dapat membuat seseorang merasa kesepian. Belajar jujur pada diri sendiri membantu membangun hubungan yang lebih tulus dan bermakna. (Unsplash/Koldunov)

Liputan6.com, Jakarta - Pernah berpura-pura menyukai atau menyetujui sesuatu demi bisa diterima orang lain? Kebiasaan menyesuaikan diri seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun, jika terus dilakukan karena takut ditolak, seseorang justru bisa merasa semakin kesepian.

Psikolog klinis Shannon Sauer-Zavala, PhD, menjelaskan bahwa mencari kesamaan dengan orang lain merupakan bagian wajar dari kehidupan sosial. Kesamaan dapat mempermudah percakapan dan menjadi awal terbentuknya hubungan.

Masalah muncul ketika seseorang mulai menyembunyikan jati dirinya demi mendapatkan penerimaan. Alih-alih membangun kedekatan yang tulus, ia justru berusaha menampilkan sosok yang dianggap paling disukai orang lain.

Punya Banyak Teman tetapi Merasa Kesepian

Dikutip dari Psychology Today, Selasa (27/10/2026), Sauer-Zavala menjelaskan bahwa mengubah diri demi menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat memberikan kepuasan dalam jangka pendek. Seseorang mungkin merasa lebih mudah berteman, menghindari konflik, dan tidak terlalu khawatir akan ditolak.

Namun, kebiasaan ini dapat membuat orang lain hanya mengenal sisi diri yang sengaja ditampilkan. Ketika seseorang terus menyembunyikan pendapat, minat, atau perasaannya, orang lain tidak memiliki kesempatan untuk mengenalnya secara utuh.

Dalam konteks psikologis, kesepian bukan hanya berkaitan dengan kurangnya hubungan sosial, tetapi juga perasaan tidak dikenal atau tidak benar-benar dipahami oleh orang lain.

Akibatnya, seseorang bisa memiliki banyak teman, tetapi tetap merasa kesepian karena tidak memiliki hubungan yang membuatnya nyaman menjadi diri sendiri.

Terlalu Sering Menjadi Orang Lain Bisa Membuat Kehilangan Jati Diri

Kebiasaan menyesuaikan diri secara berlebihan juga dapat membuat seseorang kesulitan mengenali keinginan dan pendapatnya sendiri.

Jika terbiasa menyetujui pandangan orang lain atau mengikuti kegiatan yang sebenarnya tidak disukai, seseorang bisa semakin bergantung pada respons lingkungan untuk menentukan sikapnya.

Menurut Sauer-Zavala, strategi yang awalnya bertujuan membangun kedekatan justru dapat membuat seseorang merasa semakin jauh dari dirinya sendiri.

Ketika tidak lagi yakin dengan identitas dan keinginannya, seseorang juga akan lebih sulit membiarkan orang lain mengenalnya secara mendalam.

Belajar Menjadi Diri Sendiri

Seseorang yang terbiasa menyesuaikan diri demi penerimaan orang lain dapat mulai berubah melalui langkah-langkah kecil yang mencerminkan dirinya sendiri.

Misalnya, berani mengakui belum pernah menonton film yang sedang dibicarakan, mengusulkan tempat makan yang benar-benar diinginkan, atau menyampaikan pendapat secara jujur meskipun berbeda dari orang lain.

Menjadi diri sendiri bukan berarti harus mengungkapkan semua hal atau mengabaikan perasaan orang lain. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan antara menyesuaikan diri dan mempertahankan identitas pribadi.

Tidak semua orang akan menerima perbedaan tersebut. Namun, tujuan membangun hubungan bukanlah membuat semua orang menyukai kita, melainkan menemukan orang-orang yang bisa menerima kita tanpa harus terus-menerus menyembunyikan jati diri.

Dengan memberi ruang untuk menjadi diri sendiri, seseorang berpeluang membangun hubungan yang lebih tulus, bermakna, dan membuatnya merasa lebih nyaman dalam kehidupan sosial.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya