FKUI Bakal Kaji Dampak Asap Karhutla pada Kesehatan

Dampak kesehatan akibat karhutla perlu diperhatikan, bukan hanya ketika kebakaran terjadi, melainkan juga setelahnya.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 02 November 2026, 12:40 WIB
Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P(K), mengatakan dampak kesehatan karhutla perlu diperhatikan, bukan hanya ketika kebakaran terjadi, melainkan juga setelahnya.

Liputan6.com, Jakarta - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) akan melakukan riset mengenai dampak kesehatan pada pekerja dan masyarakat pascakebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penelitian ini dikoordinasikan oleh Klaster Occupational & Environmental Health IMERI FKUI bersama Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI. Studi direncanakan menilai kondisi kesehatan pekerja dan masyarakat dalam rentang satu hingga tiga bulan setelah kejadian. Studi berfokus pada gejala sisa saluran pernapasan serta keluhan kesehatan lain yang relevan dengan paparan.

Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P(K), mengatakan dampak kesehatan karhutla perlu diperhatikan, bukan hanya ketika kebakaran terjadi, melainkan juga setelahnya. Kesehatan manusia harus menjadi bagian integral dari upaya perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla.

“Kita tidak boleh hanya bereaksi ketika bencana terjadi. Pencegahan paparan, pengenalan risiko kesehatan sejak dini, dan tindak lanjut yang tepat harus diperkuat dengan bukti ilmiah dan kolaborasi lintas disiplin,” kata Anna dalam webinar yang digelar secara daring, Sabtu (31/10/2026).

Salah satu yang menjadi sorotan adalah dampak karhutla terhadap kesehatan anak setelah kejadian. Direktur IMERI FKUI, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, mengatakan bahwa perlindungan kesehatan anak memerlukan pendekatan berkesinambungan, tidak hanya saat asap pekat melanda.

“Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa upaya perlindungan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, tidak berhenti setelah karhutla berlalu. Diperlukan kolaborasi lintas disiplin dan riset lanjutan untuk memahami dampak jangka panjangnya,” ujar Bernie.

Ancaman Dampak Jangka Panjang

Hal lain yang menjadi perhatian utama adalah dampak jangka panjang pascapaparan kronik.

Dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengajk melihat hasil studi mengenai dampak kebakaran hutan pada 1997. Hasil studi menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian, serta meningkatnya risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Paparan sejak dalam kandungan juga memengaruhi pertumbuhan anak, dengan efek yang bertahan hingga 10 dan 17 tahun kemudian, termasuk risiko stunting. Bukti lain menunjukkan potensi gangguan capaian kognitif, IQ yang lebih rendah, serta gangguan perilaku dan memori.

Menghadapi kondisi tersebut, Nastiti menekankan pentingnya antisipasi ke depan terhadap paparan kronik asap karhutla pada anak.

“Diperlukan pemantauan ketat jangka panjang terhadap anak yang terdampak. Dalam bahasa riset, ini adalah large prospective cohort yang dibutuhkan dan menjadi tanggung jawab kita,” tegasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya