Sudah Rajin Gosok Gigi, Kenapa Tetap Perlu Scaling?

Dokter gigi tetap menyarankan untuk scaling secara rutin, yakni sekitar dua kali dalam setahun.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 05 November 2026, 16:00 WIB
Dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) sekaligus CEO Audy Dental, drg Yulita Bong bicara tentang scaling.

Liputan6.com, Jakarta - Rajin menggosok gigi ternyata belum cukup untuk membuat bagian tersebut benar-benar bersih dari karang gigi. Dokter gigi tetap menyarankan untuk scaling secara rutin, yakni sekitar dua kali dalam setahun.

"Dokter gigi pasti menyarankan setahun dua kali gitu ya. Walau pada beberapa orang cenderung karang gigi terbentuk lebih slow tapi ada juga yang sangat cepat, tapi rata-rata dua kali dalam setahun," tutur dokter gigi Yulita Bong. 

Dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia ini mengungkapkan kehadiran karang gigi merupakan hal yang wajar. 

Proses pembentukannya berkaitan dengan penumpukan plak yang bercampur dengan mineral dari saliva atau air liur. Kondisi ini membuat karang gigi tidak sepenuhnya bisa dihindari meskipun seseorang sudah rutin menyikat gigi.

Saat ini banyak produk yang diklaim mampu membersihkan karang gigi secara mandiri. Namun, berdasarkan pendekatan medis, pembersihan oleh dokter gigi alias scaling masih menjadi cara yang efektif untuk menghilangkan karang gigi yang sudah mengeras.

"Sampai sekarang kalau kita lihat secara medis, memang yang paling efektif tetap harus dibersihkan secara manual. Itu harus dilakukan di dokter gigi," ujar Yulita ditemui di Audy Dental Agora Mall Jakarta Pusat pada Kamis (5/11/2026).

Rajin scaling tak hanya membuat gigi secara estetis bersih tapi juga membuat bebas bau mulut dan nafas lebih segar, mencegah karies dan gigi berlubang serta menjaga Kesehatan gusi.

Tren Perawatan Preventif pada Kesehatan Gigi

Di kesempatan yang sama, Yulita menjelaskan bahwa kini perawatan preventif atau pencegahan kini menjadi salah satu kebutuhan tertinggi di seluruh wilayah klinik Audy Dental. Masyarakat tidak lagi hanya datang ke dokter gigi ketika mengalami keluhan atau sakit gigi, tetapi juga untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.

"Orang datang bukan hanya ketika sakit gigi. Sesederhana ingin membersihkan gigi (scaling, atau merawat gigi karena ingin memiliki senyum yang lebih baik," ujar wanita yang juga CEO Audy Dental itu.

Perawatan preventif kesehatan gigi banyak dilakukan pada usia 25-35 tahun. Disusul kelompok usia dewasa matang di atas 36 tahun. Hal yang tak terduga lainnya adalah anak usia 0-12 juga sudah rajin memeriksa kesehatan gigi.

"Kelompok anak usia 0–12 tahun juga menjadi perhatian. Orangtua dari anak-anak ini ingin menciptakan pengalaman perawatan gigi yang menyenangkan bagi anak, sehingga mereka tidak mengalami trauma sejak kecil dan memiliki pandangan bahwa pergi ke dokter gigi merupakan bagian yang menyenangkan dari kehidupan," tutur Yulita.

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya