Banyak Berkeringat saat Olahraga, Benarkah Kalori Terbakar Lebih Banyak?

Keringat bukan penentu jumlah kalori yang terbakar. Penurunan berat badan lebih berkaitan dengan energi yang digunakan tubuh dan keseimbangan kalori.

Liputan6.com, Jakarta - Banjir keringat setelah berolahraga sering dianggap sebagai tanda bahwa tubuh sudah membakar banyak kalori. Namun, apakah banyaknya keringat yang keluar benar-benar jadi acuan jumlah kalori yang terbakar?

Jawabannya, berkeringat tidak selalu berarti tubuh membakar lebih banyak kalori. Keduanya memang dapat terjadi bersamaan saat berolahraga, tetapi merupakan proses yang berbeda.

Dokter kedokteran olahraga Matthew Kampert, DO, menjelaskan bahwa keringat merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah suhu tubuh meningkat terlalu tinggi.

Ketika suhu tubuh naik akibat olahraga intens, cuaca panas, atau demam, kelenjar keringat akan aktif. Keringat yang menguap dari permukaan kulit membantu melepaskan panas sehingga tubuh tetap sejuk.

Sementara itu, kalori terbakar ketika tubuh menggunakan energi untuk menjalankan berbagai fungsi, mulai dari bernapas dan menjaga detak jantung hingga menggerakkan otot.

“Setiap gerakan yang Anda lakukan membutuhkan energi. Tubuh memperoleh energi tersebut dengan memecah karbohidrat dan lemak dari makanan, serta menggunakan energi yang tersimpan di dalam tubuh,” kata Kampert, mengutip Cleveland Clinic, Selasa (20/10/2026).

Kalori Terbakar karena Kerja Otot, Bukan Keringat

Saat berolahraga, otot menggunakan energi untuk mempertahankan gerakan. Semakin berat kerja otot, semakin banyak kalori yang dapat dibakar dan semakin banyak panas yang dihasilkan. Dari sini, tubuh kemudian mengeluarkan keringat untuk membantu mendinginkannya.

Karena itu, olahraga berat sering membuat seseorang berkeringat lebih banyak sekaligus membakar lebih banyak kalori.

Namun, menurut Kampert, peningkatan pembakaran kalori tersebut terjadi karena otot bekerja lebih keras, bukan karena tubuh menghasilkan lebih banyak keringat.

Seseorang bahkan tetap bisa membakar banyak kalori ketika berlari dalam cuaca sejuk tanpa mengeluarkan banyak keringat. Jumlah keringat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, ukuran tubuh, tingkat kebugaran, usia, pakaian, kelembapan, dan suhu lingkungan.

Sementara itu, berat badan memang bisa turun setelah seseorang menjalani olahraga berat atau berada di lingkungan panas. Namun, penurunan tersebut umumnya berasal dari hilangnya cairan tubuh, bukan langsung dari berkurangnya lemak.

Kampert menjelaskan bahwa keringat terutama terdiri atas air dan elektrolit. Setelah seseorang kembali minum dan menghidrasi tubuh, sebagian besar berat yang hilang akibat berkeringat dapat kembali.

Fokus pada Aktivitas Fisik, Bukan Banyaknya Keringat

Bagi orang yang ingin menurunkan berat badan atau menjaga kesehatan, perhatian tidak hanya tertuju pada seberapa banyak tubuh berkeringat. Perubahan komposisi tubuh lebih berkaitan dengan aktivitas otot dan kebiasaan yang dijalankan secara konsisten.

Artinya, olahraga tetap dapat memberikan manfaat meskipun pakaian tidak basah oleh keringat. Yang lebih penting adalah melakukan aktivitas fisik secara teratur dan memperhatikan kondisi tubuh selama berolahraga.