Selain Batuk Pilek, Jahe Berpotensi Bantu Atasi 4 Keluhan Ini

Jahe kerap dianggap sebagai obat alami untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Jahe bukan cuma bumbu dapur. Saat merasa kurang enak badan, Zingiber officinale kerap jadi andalan. Salah satunya ketika batuk pilek. 

Jahe mengandung senyawa yang disebut polisakarida dan memiliki sifat antitusif alami, yaitu membantu meredakan batuk. Sebagai contoh, kombinasi ekstrak jahe dan kulit jeruk keprok yang juga mengandung polisakarida dapat menjadi salah satu pilihan rumahan untuk membantu meredakan batuk.

Lalu, jahe mengandung gingerol, shogaol, zingeron, dan paradol, memiliki sifat antiinflamasi, antimikroba, dan antibakteri yang berpotensi membantu tubuh melawan pilek.

Saat seseorang mengalami sakit tenggorokan, mengisap permen jahe dapat memberikan rasa nyaman dan membantu meredakan keluhan tersebut.

Selain batuk pilek, ada beberapa gangguan kesehatan lain yang bisa dibantu dikurangi atau diredakan dengan jahe seperti mengutip laman Health, yakni:

1. Gangguan Pencernaan

Mengonsumsi 1,5 gram jahe dapat membantu meredakan rasa mual atau tidak nyaman pada perut. Bahkan, konsumsi jahe sebanyak 1 gram per hari disebut dapat membantu mengurangi mual dan muntah yang kerap muncul saat awal kehamilan

Jahe juga berpotensi membantu mengelola penyakit refluks gastroesofagus atau gastroesophageal reflux disease (GERD).

Jahe dapat membantu mengurangi tekanan di dalam lambung dengan mengurangi gas dan kembung. Kondisi tersebut jika tidak diatasi dapat menyebabkan sfingter esofagus bagian bawah (lower esophageal sphincter/LES) terbuka.

Suplemen yang menggabungkan jahe dan ekstrak artichoke juga berpotensi membantu mengurangi gejala dispepsia fungsional, yaitu nyeri perut yang berulang tanpa penyebab medis yang jelas. Jahe bekerja pada lambung, sedangkan artichoke bekerja pada usus halus.

2. Migrain

Pengobatan standar untuk migrain biasanya mencakup obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan obat-obatan lainnya. Jahe berpotensi menjadi salah satu pilihan tambahan.

Dalam sebuah uji klinis, orang dengan migrain yang mengonsumsi jahe menunjukkan hasil yang secara signifikan lebih baik dibandingkan mereka yang mendapat plasebo. Kelompok yang mengonsumsi jahe melaporkan nyeri yang berkurang dan kemampuan beraktivitas yang membaik.

3. Nyeri Menstruasi

Jahe mengandung sejumlah senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan, termasuk gingerol, shogaol, dan zingeron. Senyawa-senyawa tersebut memiliki berbagai sifat yang dapat membantu mengurangi nyeri menstruasi.

Senyawa tersebut dapat membantu meredakan nyeri dengan mengendurkan spasme otot yang sering terjadi sebelum dan selama menstruasi.

Shogaol juga disebut dapat membantu mengurangi nyeri jika dikonsumsi secara rutin dalam jangka waktu tertentu.

4. Gigi dan Gusi Sensitif

Jahe berpotensi menjadi alternatif obat bebas (over-the-counter/OTC) untuk membantu meredakan nyeri dan peradangan setelah operasi di rongga mulut.

Konsumsi jahe sebanyak 400 miligram tiga kali sehari selama tiga hari disebut dapat sama efektifnya dengan ibuprofen (Advil) dalam mengurangi pembengkakan dan rasa tidak nyaman setelah operasi gusi.

Efek Konsumsi Jahe

Secara umu, jahe aman dikonsumsi dalam jumlah sedang, sekitar 4 gram per hari. Namun, konsumsi jahe secara berlebihan dapat menyebabkan sejumlah efek samping, seperti reaksi alergi, gangguan pencernaan, dan perubahan suasana hati.

Lalu, konsumsi hingga 6 gram jahe per hari dapat memperburuk gangguan pencernaan seperti GERD. Jumlah tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu akibat peningkatan produksi asam empedu.

Dalam kasus yang jarang terjadi, konsumsi jahe dalam dosis tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan denyut jantung.