Selain Hangatkan Tubuh, 3 Teh Herbal Ini Simpan Manfaat Kesehatan

Teh herbal punya lebih dari sekadar rasa dan aroma. Ini potensi manfaatnya.

Diterbitkan 10 Oktober 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Secangkir teh kerap menjadi pilihan untuk menemani aktivitas sehari-hari. Minuman ini telah dikonsumsi berbagai masyarakat di dunia selama ribuan tahun dan memiliki sejarah panjang di Asia Timur.

Teh bahkan disebut sebagai minuman paling banyak dikonsumsi kedua di dunia setelah air. Secara umum, teh dibuat dengan menyeduh daun muda dan kuncup daun tanaman Camellia sinensis menggunakan air panas, mengutip Harvard Health pada Senin (5/10/2026).

Sejumlah penelitian menunjukkan jenis teh tertentu, termasuk teh hijau, memiliki potensi manfaat bagi kesehatan. 

Konsumsi teh dikaitkan dengan dukungan terhadap sistem kekebalan tubuh, membantu melawan peradangan, menjaga kesehatan kardiovaskular, hingga kemungkinan membantu mencegah perkembangan beberapa jenis kanker.

Manfaat tersebut berhubungan dengan kandungan antioksidan tertentu dalam teh, terutama polifenol.

Herbal Tea Berbeda dari Teh Biasa

Meski sama-sama disebut teh, herbal tea umumnya tidak dibuat dari daun atau kuncup tanaman Camellia sinensis.

Herbal tea dibuat dari tisanes, yaitu seduhan atau campuran bahan seperti buah kering, bunga, rempah, dan tanaman herbal yang dicampurkan dengan air.

Beberapa jenis seduhan herbal memiliki potensi manfaat kesehatan dan telah digunakan sebagai pengobatan alami selama berabad-abad. 

Namun, konsumen tetap perlu berhati-hati karena tidak semua minuman yang dipasarkan sebagai herbal tea memiliki manfaat kesehatan. Beberapa produk bahkan hanya berupa minuman manis dengan tambahan bahan tertentu.

Ahli diet merekomendasikan konsumsi teh herbal secara seimbang. Begitupun bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis.

Sebagai catatan, teh herbal juga tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti pengobatan medis.

1. Teh Jahe

Teh jahe dikenal sebagai salah satu minuman yang digunakan untuk membantu mengatasi mual. Jahe dinilai mengandung gingerol, yakni senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antioksidan.

Selain itu, jahe mengandung sejumlah kecil vitamin dan mineral, termasuk vitamin B3, B6, zat besi, kalium, dan vitamin C.

Meski penelitian khusus mengenai teh jahe masih terbatas, penelitian terhadap jahe secara umum menunjukkan potensi manfaat terhadap fungsi pencernaan, nyeri, peradangan, hingga sindrom metabolik.

Di sisi lain, jahe dapat memperlambat proses pembekuan darah. Karena itu, orang yang mengonsumsi sejumlah obat antiplatelet atau kelompok obat untuk mencegah pembekuan darah, perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya. Jahe juga dapat meningkatkan risiko perdarahan selama dan setelah operasi.

2. Teh Chamomile

Chamomile berasal dari bunga tanaman keluarga Asteraceae dan telah lama digunakan sebagai pengobatan alami untuk berbagai kondisi kesehatan.

Tanaman tersebut mengandung berbagai fitokimia bioaktif, terutama flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. 

Sejumlah penelitian menunjukkan potensinya dalam mendukung sistem kekebalan tubuh, kesehatan jantung, serta kemungkinan sebagai perlindungan terhadap beberapa jenis kanker.

Penelitian juga menunjukkan teh chamomile berpotensi membantu perempuan yang mengalami sindrom pramenstruasi. 

Selain itu, efek antiinflamasi dan antikecemasan juga menjadi salah satu hal yang diteliti. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan chamomile mungkin membantu memperlambat penurunan kepadatan tulang yang berkaitan dengan usia.

Namun, orang dengan riwayat alergi berat, terutama terhadap serbuk sari, disarankan menghindari chamomile karena dapat mengalami reaksi alergi.

3. Teh Hibiscus

Teh herbal lainnya adalah teh hibiscus, terbuat dari kelopak bunga tanaman hibiscus yang telah dikeringkan. Minuman ini memiliki rasa segar dan cenderung asam, sekaligus mengandung antioksidan, termasuk antosianin.

Sejumlah penelitian menunjukkan potensi manfaat hibiscus terhadap kesehatan kardiovaskular. Salah satunya adalah kemungkinan membantu menurunkan tekanan darah, seperti didukung oleh meta-analisis penelitian mengenai hibiscus tersebut.

Selain itu, tinjauan penelitian menunjukkan konsumsi teh atau ekstrak hibiscus berpotensi menurunkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol “jahat” serta trigliserida.

Meski demikian, hibiscus juga dapat berinteraksi dengan obat tertentu. Orang yang mengonsumsi hydrochlorothiazide atau obat diuretik, sebaiknya menghindari konsumsi teh hibiscus tanpa berkonsultasi dengan dokter. 

Hibiscus juga dapat memengaruhi efek aspirin sehingga keduanya disarankan dikonsumsi dengan jeda tiga hingga empat jam. 

Dengan berbagai potensi manfaat tersebut, teh herbal dapat menjadi bagian dari pilihan minuman sehari-hari.

Namun, manfaatnya tidak berarti semua orang dapat mengonsumsinya tanpa batas. Kondisi kesehatan, obat yang sedang digunakan, serta risiko interaksi tetap perlu menjadi perhatian.