Orangtua Perlu Jadi Tempat Aman agar Anak Tak Curhat ke AI

Termasuk ayah dan ibu sebaiknya menahan reaksi spontan agar anak tidak merasa dihakimi.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Zaman makin canggih termasuk kini sudah ada akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Supaya anak tidak terbiasa curhat ke AI, psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti menyarankan orangtua perlu hadir sebagai tempat yang aman bagi sang buah hati. 

Pritta mengatakan kebutuhan dasar anak adalah mendapatkan kasih sayang secara tanpa syarat alias apa adanya. Karena itu, ketika anak menyampaikan cerita yang mungkin membuat orangtua terkejut atau tidak sesuai dengan harapan, maka ayah dan ibu sebaiknya menahan reaksi spontan agar anak tidak merasa dihakimi.

 "Ketika anak bercerita sesuatu yang menurut kita mungkin berpikir 'waduh kok gini ya,' kita harus tarik napas, buang napas, stay cool, meskipun di dalam hati kita berkecamuk gitu. Tapi jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi," ujar Pritta dalam diskusi bersama OpenAI pada Rabu (30/9/2026) di Jakarta. 

Menurut Pritta, respons spontan seperti marah, omelan, atau menghakimi dapat membuat anak enggan kembali bercerita.

Selain membangun rasa aman, Pritta mengatakan orang tua perlu memahami perubahan yang dialami anak ketika memasuki masa praremaja dan remaja.

Orangtua, menurut dia, perlu mempelajari berbagai perubahan emosional dan fisik yang terjadi pada anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

"Orangtua perlu belajar gejolak emosi apa, gejolak fisik apa yang timbul pada anak-anak seusia dia, atau masa remaja seusia dia," ujarnya mengutip Antara.

Pritta juga menekankan pentingnya ayah dan ibu memahami momen dan cara mencurahkan kasih sayang serta membangun kedekatan dengan anak.

Menurut dia, mengobrol dengan anak tidak selalu harus dilakukan dalam suasana formal. Oran tua dapat memanfaatkan kegiatan sehari-hari untuk membangun koneksi, seperti makan bersama, pergi membeli makanan atau es krim, hingga berolahraga bersama.

Ketika ngobrol dalam situasi yang lebih santai, kata Pritta, anak dapat merasa lebih rileks. Orangtua juga perlu memperhatikan cara bertanya agar percakapan tidak terasa seperti interogasi.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah orang tua terlebih dahulu menceritakan pengalaman mereka sendiri terlebih dahulu sebelum masuk topik pembicaraan.

"Tiga hal itu yang orangtua perlu lakukan, belajar untuk melakukan supaya anak remajanya ini bisa percaya bahwa orang tuaku ini tempat yang aman untuk aku cerita dan bertanya apa pun, karena aku tidak akan langsung dihakimi dan tidak akan langsung diomelin," kata Pritta.