Remaja Putri Bisa Kekurangan Zat Besi meski Terlihat Sehat

Skrining defisiensi zat besi penting dilakukan setahun sejak anak menstruasi atau anak berusia 14.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 09:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Skrining defisiensi besi pada remaja putri perlu dilakukan setelah menstruasi. Menurut rekomendasi terbaru American Academy of Pediatrics (AAP) skrining bisa dilakukan setahun menstruasi pertama atau maksimal pada usia 14.

Pemeriksaan yang direkomendasikan mencakup pemeriksaan kadar Hb serta pemeriksaan serum feritin untuk mengetahui status cadangan zat besi seperti disampaikan Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, SpA, Subsp.H.Onk.(K).

Murti mengatakan menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan deteksi dini dapat membantu menekan kejadian defisiensi besi pada remaja putri. Remaja putri bisa terlihat sehat dan aktif meskipun cadangan zat besi dalam tubuhnya menurun.

Jika tidak ditangani, kekurangan zat besi di antaranya bisa menyebabkan anemia defisiensi besi parah, masalah perkembangan kognitif dan fisik pada remaja, serta penurunan kekebalan tubuh.

Selain itu, defisiensi besi pada remaja putri bisa berlanjut sampai usia dewasa serta menimbulkan risiko kesehatan pada masa kehamilan dan mempengaruhi kesehatan anak yang dilahirkan.

"Remaja putri itu selain dia juga mengalami kecepatan tumbuh, juga ada faktor menstruasi, yang nanti kita harus nilai, harus evaluasi. Kalau terlalu banyak atau terlalu lama, itu lama-kelamaan juga akan menjadi penyakit defisiensi besi," katanya dalam seminar daring IDAI.

Bila memang ada defisiensi besi bisa dilakukan terapi sehingga kadarnya bisa normal. Hal ini juga bisa mencegah masalah-masalah akibat kekurangan zat besi, yang bisa berlanjut sampai remaja mencapai usia dewasa dan hamil.

"Kalau ibu hamil defisiensi besi itu juga akan berpengaruh pada bayinya, berpengaruh pada proses kelahirannya," katanya.

Upaya pencegahan defisiensi zat besi, menurut dia, perlu dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa remaja, masa kehamilan, sampai periode awal kehidupan anaknya.

"Kalau kita tarik ke belakang sebelum kita hanya bekerja untuk bayi, tetapi harusnya dari mulai remaja putri kita sudah persiapkan, karena dia tidak boleh mengalami defisiensi besi," katanya mengutip Antara.

 

Tentang Kekurangan Zat Besi

Menurut Kementerian Kesehatan, kekurangan zat besi adalah kondisi yang terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengikat dan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Gejala defisiensi besi bisa berupa kelelahan dan kelemahan, kulit dan bagian bawah mata tampak pucat, denyut jantung cepat atau tidak teratur, kesulitan berkonsentrasi, nyeri kepala, rambut rontok, dan kuku rapuh.

Â