1,9 Juta Nakes Hadapi Transformasi Digital, Ini Tantangannya

Bukan cuma teknologi, transformasi digital rumah sakit menghadirkan tantangan baru bagi 1,9 juta nakes.

Diterbitkan 23 Agustus 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Transformasi digital terus mengubah layanan kesehatan di Indonesia. Perubahan ini tidak hanya menuntut rumah sakit untuk mengadopsi teknologi, tapi juga mendorong tenaga kesehatan dan seluruh ekosistem layanan kesehatan untuk beradaptasi.

Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) 2026, terdapat sekitar 1,9 juta tenaga kesehatan dan 290 ribu dokter dengan Surat Tanda Registrasi (STR) serta Surat Izin Praktik (SIP) aktif.

Di tengah pesatnya transformasi digital, pembaruan pengetahuan dan kompetensi menjadi bagian penting agar tenaga kesehatan tetap mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Executive Conversation 'Reinventing Hospitals' yang digelar Halodoc bersama sejumlah pimpinan rumah sakit. Diskusi ini membahas tantangan dan peluang transformasi layanan kesehatan, baik secara digital maupun melalui layanan tatap muka di fasilitas kesehatan.

Transformasi Digital Tak Hanya Soal Teknologi

Co-founder Halodoc dan Deputy Group President Director Mensa Group, Dr. Erwin Tenggono, mengatakan, keberhasilan transformasi digital rumah sakit tidak hanya bergantung pada teknologi.

Menurutnya, kesiapan tata kelola dan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar transformasi dapat berjalan secara berkelanjutan. "Kunci keberhasilan transformasi layanan kesehatan ada pada kesiapan tata kelola dan talentanya, bukan hanya seberapa jauh adopsi teknologi," ujar Erwin.

Dia, menjelaskan, kesiapan digital juga dimulai dari belief system dalam organisasi, yakni bagaimana individu dan pemimpin memandang pentingnya transformasi.

Keyakinan tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun kompetensi dan kapabilitas organisasi untuk menjalankan transformasi digital.

Selain itu, social capital, human capital, dan leadership skill perlu berjalan beriringan. Kolaborasi antarpihak juga diperlukan untuk mengurangi budaya kerja yang silo dan memastikan kebutuhan pasien tetap menjadi pusat layanan.

 

Kompetensi Tenaga Kesehatan Perlu Diperkuat

Transformasi digital membuat tenaga kesehatan perlu terus memperbarui pengetahuan dan kompetensi. Inisiatif peningkatan kompetensi dalam ekosistem Halodoc telah dimanfaatkan lebih dari 150 ribu tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.

Melalui Halodoc for Doctors, tenaga kesehatan dapat mengakses fitur LEARN yang menyediakan program peningkatan kompetensi berbasis Satuan Kredit Profesi (SKP) dari Kementerian Kesehatan RI. Halodoc Academy yang terintegrasi di dalamnya juga telah terakreditasi Kementerian Kesehatan RI.

Co-founder dan CEO Halodoc, Jonathan Sudharta, menekankan pentingnya penguatan kompetensi tenaga kesehatan seiring transformasi layanan kesehatan.

"Transformasi layanan kesehatan perlu berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi tenaga kesehatan," ujar Jonathan.

Selain pengembangan kompetensi, kolaborasi dengan rumah sakit juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi. Salah satunya melalui layanan yang mendampingi pasien sejak sebelum kunjungan, selama perawatan, hingga setelah pengobatan.

Sejak diluncurkan pada Maret 2026, layanan ini telah mendampingi lebih dari 2.300 pasien di 16 rumah sakit mitra.

Jonathan menilai transformasi kesehatan tidak sebatas adopsi teknologi, tapi juga bagaimana seluruh ekosistem dapat tumbuh bersama.

Kolaborasi antara rumah sakit, tenaga kesehatan, dan penyedia layanan digital diharapkan mampu menghadirkan layanan yang semakin terintegrasi dengan pengalaman pasien sebagai prioritas.