Otot Wajah, Bagian Penting dalam Pendekatan Perawatan Awet Muda

Kenali peran otot wajah dalam perawatan awet muda dan perkembangan teknologi estetika anti-aging modern.

Liputan6.com, Jakarta - Ketika wajah mulai terlihat kendur meski sudah menjalani berbagai perawatan pengencangan kulit, ada hal lain yang patut diperhatikan, yakni otot wajah. Seiring bertambahnya usia, perubahan pada wajah tidak hanya terjadi di permukaan kulit, tapi juga melibatkan otot, jaringan lemak, dan struktur penunjang yang memengaruhi bentuk serta kontur wajah.

Perubahan ini membuat pendekatan perawatan awet muda atau anti-aging semakin berkembang. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada kerutan, elastisitas, dan kekencangan kulit, kini struktur di bawah kulit juga menjadi bagian dari pembahasan dalam dunia estetika.

Wajah terdiri dari berbagai lapisan yang bekerja bersama untuk membentuk penampilan dan mendukung ekspresi. Otot wajah, misalnya, berperan ketika seseorang tersenyum, mengerutkan dahi, atau melakukan berbagai gerakan ekspresi lainnya.

Seiring bertambahnya usia, perubahan pada sejumlah struktur wajah dapat memengaruhi kontur dan tampilan keseluruhan. Karena itu, memahami proses penuaan wajah tidak cukup hanya dengan melihat kondisi kulit.

Penelitian mengenai penuaan wajah yang dipublikasikan melalui PubMed menjelaskan bahwa proses tersebut melibatkan perubahan pada berbagai lapisan dan struktur wajah, bukan hanya kulit. Meski demikian, kondisi setiap orang berbeda.

Pemilihan perawatan perlu mempertimbangkan kebutuhan, kondisi wajah, serta tujuan yang ingin dicapai melalui konsultasi dengan dokter.

President Director PT Regenesis Indonesia, Emmy Noviawati, mengatakan perubahan tersebut mencerminkan cara pandang yang lebih menyeluruh terhadap perawatan wajah.

"Kami melihat adanya perubahan cara pandang dalam facial aesthetics. Wajah tidak hanya terdiri dari kulit yang terlihat, tetapi juga struktur di bawahnya yang ikut membentuk, menopang, dan menggerakkan wajah," ujarnya.

Oleh sebab itu, kata Emmy, perhatian terhadap otot wajah menjadi bagian menarik dari perkembangan treatment estetika modern.

Dari Skin Care ke Muscle Care

Perhatian terhadap otot wajah turut mendorong berkembangnya pendekatan muscle care dalam dunia estetika. Salah satu teknologi yang diperkenalkan di Indonesia adalah WonderFace, yang menawarkan stimulasi neuromuskular atau Neuromuscular Stimulation (NMS) untuk menstimulasi otot wajah.

WonderFace memiliki dua platform teknologi yang independen dan dapat digunakan secara terpisah, yakni NMS untuk stimulasi otot wajah dan radiofrequency (RF) untuk perawatan jaringan kulit. Dokter dapat menentukan modalitas yang digunakan berdasarkan kondisi, kebutuhan, dan tujuan perawatan setiap pasien.

Teknologi ini menyediakan 10 pilihan program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari lifting dan tonifikasi hingga facial contouring, penanganan bruxism, serta lymphatic drainage. Program yang dipilih bergantung pada tujuan perawatan dan kelompok otot yang menjadi sasaran.

Dengan sesi perawatan yang relatif singkat dan intensitas yang dapat disesuaikan, WonderFace dirancang untuk memberikan pengalaman perawatan yang nyaman. Namun, kesesuaian teknologi dan program tetap perlu dinilai oleh dokter berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Apa Kata Penelitian tentang Stimulasi Otot Wajah?

Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi potensi stimulasi neuromuskular pada wajah. Dalam sebuah studi terkontrol terhadap 108 perempuan, stimulasi otot wajah selama 12 minggu dikaitkan dengan peningkatan ketebalan otot zygomaticus major sebesar 18,6%. Otot ini berperan dalam gerakan tersenyum. Studi tersebut juga melaporkan perbaikan pada kekencangan, tonus, dan efek pengangkatan wajah.

Penelitian lain terhadap perempuan Asia melaporkan perbaikan pada elastisitas kulit, kerutan, tampilan kendur, garis senyum, dan kontur rahang setelah delapan minggu stimulasi otot wajah.

Meski demikian, kedua penelitian tersebut menggunakan protokol dan perangkat stimulasi tertentu, bukan WonderFace. Karena itu, hasilnya tidak dapat langsung dijadikan bukti efektivitas teknologi tersebut. Temuan penelitian juga perlu dipahami dengan mempertimbangkan desain dan keterbatasan masing-masing studi.

Â