Ingin Tidur Terus Saat Stres? Kenali Pilihan Coping Mechanism

Cara seseorang menghadapi stres (coping mechanism) bisa membantu meredakan tekanan tapi ada juga yang malah memicu masalah baru.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Stres dapat muncul dalam berbagai situasi, mulai dari tekanan pekerjaan dan pendidikan hingga masalah keluarga. Untuk menghadapinya, seseorang biasanya menggunakan bermacam strategi yang membantu mengelola stres dan emosi, dan dikenal sebagai coping mechanism.

Psikolog Brianne Markley, PhD, menjelaskan bahwa coping mechanism merupakan strategi atau teknik yang digunakan seseorang untuk menghadapi kondisi yang menekan atau memicu stres. 

Menurutnya, mekanisme ini membantu seseorang merespons gemuruh emosi, bukan sekadar mengalaminya tanpa pertahanan.

Stres dapat menimbulkan berbagai keluhan, seperti kelelahan, ketegangan otot, tekanan darah tinggi, serangan panik, kecemasan, hingga depresi, dilansir Cleveland Clinic, Selasa (6/10/2026).

Karena itu, seseorang mungkin membutuhkan beberapa cara berbeda untuk menghadapi tekanan, tergantung situasi yang sedang dialami.

Pilihan Coping yang Sehat

Cara setiap individu menentukan coping-nya tentu berbeda, menyesuaikan keinginan dan rasa nyaman. Ada beberapa orang yang memilih tidur sebagai bagian dari coping mechanism. 

Sementara Markley menyarankan beragam keterampilan coping karena tidak semua cara akan cocok untuk setiap situasi. Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain: 

  • Meditasi.
  • Latihan pernapasan dalam.
  • Olahraga atau aktivitas fisik.
  • Berjalan santai di luar ruangan.
  • Bermain dengan hewan peliharaan.
  • Memasak.
  • Menulis jurnal.
  • Mendengarkan musik.
  • Membaca.
  • Mengobrol dengan teman.
  • Melakukan hal yang digemari.

Selain itu, penting untuk mengurangi penggunaan teknologi dan media sosial sementara juga dapat menjadi pilihan. 

Beberapa Jenis Cara Menghadapi Stres

Menurut Markley, coping mechanism dapat dibedakan menjadi active coping dan avoidant coping. 

Active coping dilakukan dengan menghadapi masalah secara langsung. Misalnya, ketika menghadapi persoalan di tempat kerja atau sekolah, seseorang dapat memikirkan berbagai kemungkinan solusi sebelum menentukan langkah untuk menyelesaikannya.

Sementara itu, avoidant coping dilakukan dengan mengalihkan perhatian, mengabaikan, atau mengecilkan masalah agar tidak perlu menghadapinya. 

Coping juga dapat dilihat sebagai adaptive coping atau cara yang sehat dan maladaptive coping atau cara yang kurang sehat. 

Secara lebih spesifik, terdapat tiga gaya coping:

Action-based coping yang berfokus pada penyelesaian masalah.

Cognitive-based coping yang berupaya mengubah pola pikir atau cara memandang situasi. 

Emotion-based coping yang membantu seseorang mengelola respons emosional terhadap stres.

Hindari Coping yang Justru Menambah Masalah

Tidak semua cara mencari kelegaan dari stres tergolong sehat. Sejumlah hal di bawah ini justru dinilai menjadi cara menghadapi ketertekanan yang tidak sehat. 

  • Konsumsi alkohol.
  • Penggunaan obat atau zat dilarang.
  • Berjudi.
  • Belanja secara impulsif.
  • Marah secara meledak-ledak.
  • Mengabaikan masalah.
  • Menyalahkan orang lain atau keadaan.
  • Menyakiti diri sendiri.
  • Makan berlebihan atau membatasi makan secara ekstrem.
  • Mengisolasi diri.

Cara-cara tersebut memang dapat memberikan rasa lega sementara, tetapi tidak menyelesaikan sumber masalah.

Menurut Markley, coping yang tidak sehat dapat menimbulkan persoalan baru dan berdampak pada kesehatan mental, fisik, serta hubungan dengan orang lain.