Liputan6.com, Jakarta - Norovirus kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan 'menghantui' penumpang kapal pesiar Ambassador Cruise Line yang berlabuh di Bordeaux, Prancis. Virus yang menyerang saluran pencernaan ini ternyata bukan virus baru dan sudah pernah ditemukan di Indonesia.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), Ari Fahrial Syam, mengatakan, Norovirus merupakan salah satu penyebab utama infeksi usus akut atau gastroenteritis di dunia.
Advertisement
"Virus ini dapat menyebar dengan cepat melalui makanan yang telah terkontaminasi," kata Ari saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat pada Minggu, 17 Mei 2026.
Dia, menjelaskan, keberadaan Norovirus di Indonesia juga sudah pernah dilaporkan dalam jurnal internasional. Salah satunya penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Virology pada Mei 2020 oleh peneliti dari Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga.
Dalam penelitian tersebut, dari 91 sampel feses yang diperiksa, sebanyak 14 sampel atau sekitar 15,4 persen dinyatakan mengandung Norovirus. Sampel diambil dari beberapa rumah sakit di Kota Jambi pada awal 2019.
Menurut Ari, berbeda dengan virus SARS-CoV-2 yang menyebar lewat droplet dan udara, Norovirus lebih sering ditularkan melalui makanan atau dikenal dengan istilah food borne disease.
"Keadaan luar biasa bisa terjadi jika ada makanan yang tercemar virus ini," ujarnya.
Gejala yang muncul umumnya menyerupai keracunan makanan, seperti demam, nyeri perut, diare, mual, dan muntah. Gejala tersebut bahkan bisa muncul dalam waktu kurang dari 24 jam setelah seseorang mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi.
Ari, mencontohkan, kasus KLB Norovirus pernah terjadi di Provinsi Shanxi, Tiongkok. Penularan diduga berasal dari makanan yang disajikan di kantin.
Hingga saat ini, laporan dari Center for Disease Control and Prevention Tiongkok mencatat lebih dari 30 KLB dengan sekitar 1.500 kasus sejak September 2020.
"Biasanya kasus bermula dari restoran atau kantin yang makanannya tercemar Norovirus, lalu banyak pelanggan ikut terinfeksi," ujarnya.
Norovirus Mirip dengan Keracunan Makanan
Meski terdengar mirip dengan keracunan makanan biasa, Ari mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh infeksi Norovirus. Pemeriksaan terhadap sisa makanan, muntahan, maupun feses pasien perlu dilakukan apabila terjadi KLB untuk memastikan sumber penyebabnya.
Dia, menegaskan, pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menghindari penyebaran virus ini. Menjaga kebersihan makanan dan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun dinilai sangat efektif mengurangi risiko penularan.
"Upaya pencegahan dilakukan dengan menjaga kualitas makanan, baik yang disediakan restoran, kantin, maupun rumah tangga. Selain itu masyarakat harus rajin mencuci tangan pakai sabun," kata Ari.
Hingga kini belum ada obat khusus untuk mengatasi Norovirus. Penanganan lebih difokuskan untuk meredakan gejala dan mencegah dehidrasi akibat muntah serta diare.
Pasien biasanya dianjurkan mengonsumsi makanan lunak seperti bubur, memperbanyak cairan, dan menghindari makanan pedas maupun berlemak sampai kondisi tubuh membaik.
Karena mudah menyebar lewat makanan, kewaspadaan terhadap Norovirus dinilai penting, terutama di lingkungan dengan aktivitas makan bersama seperti sekolah, kantor, restoran, dan kantin umum.