Gangguan Kandung Kemih: Kenali Penyebab dan Kapan Harus Berobat

Pahami penyebab gangguan kandung kemih, gejalanya, dan kapan sebaiknya segera ke dokter.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gangguan kandung kemih masih menjadi masalah kesehatan yang sering diabaikan masyarakat. Banyak orang menganggap keluhan seperti sulit menahan buang air kecil, sering buang air kecil, atau anyang-anyangan sebagai bagian normal dari proses penuaan maupun setelah melahirkan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis.

Data menunjukkan 1 dari 8 perempuan mengalami gangguan kemih, mulai dari inkontinensia urine, overactive bladder (OAB), prolaps organ panggul, hingga gangguan fungsi dasar panggul lainnya. Sayangnya, tidak sedikit pasien yang baru mencari pertolongan setelah keluhan semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyakit kandung kemih disebabkan oleh apa? Gangguan kandung kemih dapat dipicu oleh berbagai faktor, tergantung pada kondisi setiap individu. Prof. dr. Harrina Erlianti Rahardjo, Sp.U (K), Ph.D dari Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic, Siloam Hospitals Asri mengatakan bahwa pada perempuan, risiko meningkat setelah kehamilan dan persalinan akibat melemahnya otot dasar panggul.

Selain itu, proses penuaan, gangguan saraf, infeksi saluran kemih, hingga kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi fungsi kandung kemih.

Beberapa kondisi yang sering ditemukan meliputi inkontinensia urine, yaitu ketidakmampuan menahan buang air kecil, overactive bladder yang ditandai keinginan berkemih secara mendadak dan berulang, serta prolaps organ panggul, ketika organ di area panggul turun akibat melemahnya jaringan penyangga.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala gangguan kandung kemih tidak selalu sama pada setiap pasien. Namun, beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Sulit menahan buang air kecil.
  • Terlalu sering buang air kecil, terutama pada malam hari.
  • Rasa ingin buang air kecil yang muncul secara tiba-tiba.
  • Anyang-anyangan atau sensasi tidak tuntas saat berkemih.
  • Kebocoran urine saat batuk, tertawa, atau berolahraga.

Apabila keluhan tersebut terjadi berulang atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Kapan Harus Berobat?

Menurut Harrina, masyarakat tidak perlu merasa malu untuk memeriksakan diri ketika mengalami gangguan berkemih. Semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang pasien memperoleh terapi yang sesuai.

"Masih banyak pasien yang merasa malu atau menganggap keluhan berkemih yang dialaminya sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, sebagian besar kondisi tersebut dapat didiagnosis secara akurat dan ditangani dengan baik apabila pasien datang lebih awal untuk mendapatkan evaluasi yang tepat," ujar Harrina.

Spesialis urologi konsultan Female Functional Urology dan Neurourology, dr. Fina Widia, Sp.U (K), mengatakan, saat ini penanganan gangguan kandung kemih semakin berkembang berkat pendekatan multidisiplin dan dukungan teknologi medis.

"Inilah wujud nyata dari konsep komprehensif dan layanan terpadu satu pintu yang kami hadirkan bagi pasien," ujar Fina.

Kini, diagnosis gangguan kandung kemih juga didukung teknologi seperti Video Urodynamic Studies (VUDS) yang memungkinkan dokter mengevaluasi fungsi kandung kemih dan saluran kemih bawah secara lebih akurat. Selain itu, terapi seperti pelvic floor physiotherapy dapat membantu memperkuat otot dasar panggul sehingga mampu mengurangi berbagai keluhan berkemih.