Hasil CKG Temukan Anak SMA Hipertensi, Kemenkes Telusuri Penyebabnya

Tekanan darah tinggi pada anak SMA ditemukan saat CKG, dokter mencurigai hipertensi sekunder.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 19 Mei 2026, 09:00 WIB
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi soal hipertensi pada anak SMA, Jakarta (17/5/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) memperlihatkan temuan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi. 

Berdasarkan CKG yang telah diikuti 70 juta penduduk Indonesia pada 2025, sekitar 15 juta orang mengalami hipertensi, diantaranya terjadi pada anak SMA seperti disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan dokter Siti Nadia Tarmizi.

“Dan, kita mendapatkan sedikit angka, yang masih kami coba verifikasi lagi, ada peningkatan tekanan darah pada anak usia SMA,” kata Nadia dalam temu media di Jakarta, Minggu (17/5/2026).

Menurut Nadia, temuan anak SMA alami tekanan darah tinggi tengah dievaluasi dan dicari tahu penyebabnya. Pasalnya, naIKNya tensi bisa terjadi hanya saat bertemu perawat atau dokter yang memeriksa sementara dalam kondisi lain tekanan darahnya normal.

“Ini yang sedang kami validasi mengenai angkanya. Apakah betul memang terjadi peningkatan tekanan darah pada usia anak SMA atau ada faktor-faktor lain,” jelas Nadia.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Ni Made Hustrini mengatakan bahwa hipertensi pada usia terlalu muda bukanlah hal yang umum terjadi. Jika hipertensi muncul di usia 15 maka perlu dicurigai ada sesuatu yang salah.

“Hipertensi pada usia yang ekstrem yakni terlalu muda atau terlalu tua, kita harus mencurigai adanya sesuatu,” kata Ni Made Hustrini kepada Kesehatan Liputan6.com dalam acara yang sama.

Hipertensi Sekunder

Ni Made Hustrini menambahkan, hipertensi pada usia ekstrem kerap disebut sebagai hipertensi sekunder. Di mana penyebabnya bukanlah kekakuan pembuluh darah layaknya hipertensi primer.

“Ini namanya hipertensi yang sekunder, sebagian besar orang itu mengalami hipertensi yang primer yang terjadi karena kekakuan pembuluh darah. Kita makin tua pembuluh darah kita tuh mulai tidak elastis, kaku, nah itulah yang mengakselerasi terjadinya kenaikan tekanan darah,” jelasnya.

“Tapi kalau terjadinya misalnya usia 15 tahun, 18 tahun, di bawah 30 tahun, kalau dia sudah menderita tekanan darah tinggi kita harus pikirkan oh ini mungkin ada sesuatu,” imbuhnya.

Tak Boleh Buru-Buru Disimpulkan Hipertensi Primer

Maka dari itu, hipertensi pada usia terlalu muda tidak boleh buru-buru disimpulkan sebagai hipertensi primer atau hipertensi biasa.

“Jadi tidak buru-buru menyimpulkan bahwa ini hipertensi yang biasa. Biasanya sangat besar kemungkinan dia ada gangguan ginjal, atau gangguan hormon terutama tiroid dan yang lainnya yang mengganggu pengaturan tekanan darahnya,” paparnya.

Ni Made Hustrini menambahkan, angka kasus hipertensi sekunder tidaklah tinggi. Jika diagnosis salah maka penanganannya pun akan keliru.

“Jadi orang-orang seperti ini memang tidak banyak kisarannya hanya sekitar 5 sampai 10 persen, tapi kalau diagnosisnya tidak tepat dan tidak diterapi dengan baik, komplikasinya sangat berbahaya,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya