Liputan6.com, Jakarta - Polycystic ovary syndrome (PCOS) tidak hanya memengaruhi kesehatan reproduksi perempuan tapi juga meningkatkan risiko diabetes. Oleh sebab itu, perempuan dengan PCOS dianjurkan lebih waspada dan rutin memeriksakan kadar gula darah, terutama jika memiliki faktor risiko lain.
Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA), Dr. dr. K. Heri Nugroho, Sp.PD-KEMD, FINASIM, mengatakan, perempuan dengan riwayat PCOS termasuk kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami diabetes.
Selain itu, perempuan yang pernah melahirkan bayi dengan berat badan besar serta individu dengan obesitas juga disarankan menjalani skrining gula darah secara berkala.
Advertisement
"Perempuan juga, mereka yang punya PCOS, melahirkan bayi besar, itu masuk ke dalam faktor risiko. Dan mereka yang obes, itu bisa direkomendasikan untuk periksa gula," ujar Heri dalam diskusi penanganan diabetes pada acara End-to-End Diabetes Ecosystem Support di Jakarta, Senin (4/8/2026).
Heri menekankan bahwa pemeriksaan gula darah sebaiknya tidak menunggu hingga muncul gejala. Masyarakat yang memiliki faktor risiko, termasuk perempuan dengan PCOS, perlu berkonsultasi dengan dokter agar diabetes dapat dideteksi sejak dini.
Menurutnya, keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan besar dalam penanganan diabetes di Indonesia. Tidak sedikit pasien baru mengetahui dirinya mengidap diabetes ketika penyakit sudah berlangsung lama atau bahkan telah menimbulkan komplikasi.
"Dari penelitian, hanya sekitar 30 persen yang sadar dan berobat pada saat tahu," katanya.
Meski teknologi pemeriksaan terus berkembang dan akses layanan kesehatan semakin baik, Heri mengatakan banyak pasien tetap datang dalam kondisi diabetes yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
"Karena banyak pasien datang ke kami, sudah komplikasi, mungkin diabetesnya sudah beberapa tahun lalu. Ketika ditanya sudah diabetes dari kapan, oh enam bulan, udah setahun," ujarnya.
Selain PCOS, kelompok yang berisiko mengalami diabetes meliputi orang berusia 45 tahun ke atas, penderita hipertensi, mereka yang memiliki gangguan kolesterol, serta individu dengan obesitas.
Sementara itu, Ketua Persatuan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), Ida Ayu Made Kshanti, mengingatkan bahwa dokter tidak hanya melihat hasil pemeriksaan gula darah dari satu angka.
Penilaian juga dilakukan dengan mempertimbangkan faktor risiko yang dimiliki setiap pasien. "Betul-betul harus diperhatikan, angka itu dilihat faktor risiko lainnya," ujar Ida.
Dokter konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes tersebut, menambahkan, rendahnya literasi kesehatan masih menjadi penyebab banyak masyarakat terlambat memeriksakan diri.
"Mungkin yang pertama kita perhatikan adalah tampaknya literasi kesehatan di masyarakat masih kurang atau belum rata," katanya.
Oleh sebab itu, edukasi menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai diabetes.
Dengan memahami faktor risiko, termasuk kaitan PCOS dengan diabetes, perempuan diharapkan lebih cepat menjalani pemeriksaan sehingga penyakit dapat dideteksi sebelum menimbulkan komplikasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315988/original/057519300_1785907171-Screenshot_2026-08-05_115928.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316075/original/017563100_1785912131-cek_fakta_-_OJK_pinjaman_online__pinjol_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315947/original/020958800_1785905048-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T114257.981.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9316263/original/023764600_1785919066-IMG_20260804_144353.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315520/original/015626300_1785839283-IMG_20260804_131907.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5143503/original/050417500_1740541323-diabetes-3426247_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3441401/original/072207200_1619532374-Ilustrasi_pembekuan_lemak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298678/original/030095500_1784179616-Ilustrasi_Ramen__Makan_Ramen__Ramen_Korea__Mi_Ramen_oleh_Aditya_Eka_Prawira__3_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5280563/original/043936100_1752231994-Diabetes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4688850/original/076075000_1702775467-obat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288377/original/037473300_1783315734-Prof._dr._Dante_Saksono_Harbuwono__Sp.PD-KEMD__Ph.D.__Ketua_Himpunan_Studi_Obesitas_Indonesia__HISOBI___3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288493/original/024813600_1783322938-Ketua_Umum_Perkumpulan_Endokrinologi_Indonesia__PERKENI___Prof._Dr._dr._Em_Yunir__SpPD-KEMD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288433/original/030467000_1783320482-Ketua_Umum_Perkumpulan_Endokrinologi_Indonesia__PERKENI___Prof._Dr._dr._Em_Yunir__SpPD-KEMD___1_.jpg)