Merasa Sehat Bukan Berarti Kolesterol Aman, Dokter: Cek Mulai Usia 20-an

Dokter ungkap alasan pemeriksaan kadar kolesterol termasuk LDL dan HDL perlu dilakukan sejak usia 20-an.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 14 Juni 2026, 12:54 WIB
Dokter Nancy bicara tentang pemeriksaan kolesterol perlu dilakukan sejak usia 20an dalam program Love The Beat dari Kalbe Farma di RS Mitra Keluarga Kemayoran.

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang yang menganggap pemeriksaan kolesterol baru diperlukan ketika memasuki usia paruh baya atau saat mulai mengalami keluhan kesehatan. Padahal, pemeriksaan kolesterol sebaiknya dilakukan sejak usia muda.  

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Nancy Virginia mengatakan berdasarkan pedoman internasional rekomendasi pemeriksaan kolesterol dilakukan sejak usia 20 tahun. Meski merasa sehat atau tidak ada keluhan sebaiknya tetap dilakukan untuk mengetahui risiko kesehatan terkait kolesterol.

Nancy menjelaskan alasan usia 20an sudah perlu cek kolesterol. Hal ini berkaitan dengan proses terbentuknya penumpukan lemak di pembuluh darah yang sebenarnya sudah dapat dimulai sejak usia remaja hingga dewasa muda.

"Melihat mekanisme terjadinya penyakit atau penyumbatan, itu sudah mulai terbentuk guratan fatty streak atau guratan lemak di pembuluh darah itu sudah mulai di usia 15-20 tahun," tutur Nancy menjawab pertanyaan Liputan6.com pada acara Love The Beat bersama Kalbe Farma, Sabtu, 13 Juni 2026. 

Bila hasil pemeriksaan menunjukkan kolesterol total tinggi, LDL atau kolesterol jahat di atas normal maka bisa segera melakukan intervensi demi mencegah risiko serangan jantung dan stroke di kemudian hari.

"Kalau di usia tersebut terdeteksi ada LDL atau kolesterol jahat yang tinggi, kita bisa mulai melakukan perubahan gaya hidup atau bahkan pengobatan lebih dini. Tujuannya agar proses pembentukan plak tidak berlanjut," katanya.

 

Pemeriksaan Kolesterol yang Seperti Apa?

Ilustrasi pemeriksaan darah (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Nancy mengatakan pemeriksaan kolesterol sebaiknya mencakup profil lipid lengkap, yaitu kolesterol total, kolesterol LDL (low-density lipoprotein), kolesterol HDL (high-density lipoprotein), dan trigliserida. Hal ini diketahui dengan pengambilan darah dari pembuluh vena.

Pemeriksaan ini tetap penting dilakukan meski seseorang tidak memiliki keluhan. Sebab, kadar kolesterol yang tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala hingga akhirnya memicu komplikasi serius seperti serangan jantung atau stroke.

Selain pola makan dan gaya hidup, faktor genetik juga dapat memengaruhi kadar kolesterol seseorang. Orang yang tampak sehat sekalipun belum tentu memiliki kadar kolesterol yang normal.

"Kadang-kadang seseorang merasa sehat dan tidak memiliki keluhan apa pun, tetapi ternyata kadar kolesterolnya tinggi. Faktor genetik juga bisa berperan," ujarnya.

Menjaga Kadar LDL Terkontrol

Nancy menambahkan, menjaga kadar LDL tetap terkontrol dalam jangka panjang terbukti dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat pengendalian kolesterol tidak hanya terlihat dari penurunan angka kolesterol semata, tetapi juga dari lamanya kadar LDL berada dalam rentang yang baik.

"Orang yang kadar LDL-nya terjaga baik selama bertahun-tahun memiliki risiko lebih rendah mengalami serangan jantung maupun stroke dibandingkan mereka yang baru mengontrol kolesterol dalam waktu singkat," kata Nancy.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat tidak menunggu munculnya gejala untuk memeriksakan kadar kolesterol. Deteksi dini dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit jantung koroner dan berbagai komplikasi kardiovaskular lainnya.        

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya