Liputan6.com, Jakarta - Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K) menekankan bahwa alergi dan keracunan makanan merupakan dua kondisi berbeda yang masih sering disalahartikan. Baik di ruang praktik maupun pemberitaan.
Dia menjelaskan bahwa perbedaan utama keduanya terletak pada siapa yang dapat terdampak. "Keracunan menimpa siapa pun yang memakannya, alergi hanya menimpa orang tertentu. Karena itu, keracunan bisa menjadi wabah, sementara alergi tidak," kata Yogi dikutip dari Antara pada Minggu, 13 September 2026.
Yogi menjelaskan bahwa keracunan makanan merupakan penyakit yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri dan/atau racun, virus, parasit, maupun bahan kimia.
Advertisement
Siapa pun yang mengonsumsi makanan tercemar tersebut dapat mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, demam, hingga terkadang pusing. Gejala biasanya muncul beberapa jam setelah konsumsi atau dalam waktu satu hingga dua hari.
Pola kejadian keracunan juga dapat menyebabkan kejadian luar biasa karena sumbernya berasal dari makanan yang tercemar. Artinya, banyak orang yang mengonsumsi makanan atau minuman yang sama dapat mengalami keluhan serupa.
Alergi Hanya Dialami Orang Tertentu
Berbeda dengan keracunan, alergi makanan merupakan reaksi sistem imun terhadap protein tertentu yang terdapat dalam makanan. Kondisi ini hanya dialami oleh individu yang memiliki sensitivitas terhadap makanan tersebut.
Gejala alergi juga dapat muncul lebih cepat, mulai dari hitungan menit hingga beberapa jam setelah makanan dikonsumsi.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain rasa gatal, bengkak pada bibir atau kelopak mata, biduran, sesak napas, hingga penurunan kesadaran.
Dokter lulusan Universitas Indonesia itu, mengatakan, alergi tidak menular dan tidak menyebabkan kejadian seperti wabah karena reaksinya hanya terjadi pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap pemicu tertentu.
Mengapa Anak dan Remaja Lebih Rentan Keracunan?
Yogi melanjutkan, anak dan remaja termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampak keracunan makanan. Salah satu alasannya adalah cadangan cairan dalam tubuh mereka lebih kecil.
"Ketika kehilangan cairan dalam jumlah yang sama, dampaknya terhadap kesehatan anak bisa jauh lebih besar,"Â ujarnya.
Selain itu, sistem imun dan saluran cerna anak yang belum matang membuat jumlah kuman yang dibutuhkan untuk menyebabkan sakit dapat lebih sedikit.
Faktor lain adalah pola makan anak dan remaja yang lebih sering berada di luar pengawasan keluarga, misalnya ketika membeli makanan di kantin atau jajan di pinggir jalan.
Pada anak yang masih kecil dan belum mampu melaporkan keluhannya dengan baik, gejala keracunan juga dapat lebih sulit dikenali. Anak mungkin hanya terlihat lebih pendiam, lemas, atau tidak seperti biasanya.
Data Kasus Keracunan Makanan di Indonesia
Mengutip data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2024, terdapat 1.164 kasus keracunan obat dan makanan di Indonesia. Sebanyak 806 kasus di antaranya berasal dari makanan dan minuman.
Dalam data yang sama, Yogi menyebut sebanyak 42,96 persen kasus terjadi pada kelompok usia remaja dengan rentang usia 12 hingga 25 tahun.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300009/original/089493000_1784283677-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329801/original/040098200_1787296595-HOAX__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4824890/original/015114700_1715084293-IMG_0156.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4603537/original/079736100_1696822685-kelly-sikkema-k0o-cw5Y_9s-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343054/original/075440100_1788842362-WhatsApp_Image_2026-09-08_at_11.15.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342609/original/043600500_1788780135-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317338/original/090587100_1786008738-20260806_105623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2893092/original/098771900_1566815355-mite-2151688_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257001/original/012837800_1781182038-Medical_and_Scientific_Affairs_Director_Sarihusada__Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5240344/original/078455400_1748917311-0bdb3a0b-9be0-42a7-8f03-31c6c44ac91f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3228275/original/027308400_1599191729-stres_pada_anak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5529198/original/048081600_1773311046-vaksin_campak.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225987/original/098481400_1599023065-Imunisasi-Campak5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3251163/original/046431000_1601276679-coronavirus-spread-sick-woman-with-flu-virus-sneezing-her-elbow-wrong-virus-protection_146259-292.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315749/original/018579600_1785886667-ChatGPT_Image_Aug_5__2026__06_36_41_AM.jpg)