Sensasi Naik Wahana Halilintar: Mendebarkan tapi Bikin Ketagihan

Wahana halilintar bikin jantung berdebar dan takut. Mengapa sensasi ini justru terasa menyenangkan?

Diterbitkan 13 September 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jantung berdebar kencang, napas memburu, tubuh terasa tertekan, bahkan muncul rasa takut. Anehnya, semua sensasi tersebut justru membuat sebagian orang ingin menaiki wahana halilintar lagi dan lagi.

Wahana halilintar memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menegangkan. Namun, alasan orang menyukainya ternyata bukan sekadar karena kecepatan. Ada kombinasi antara rasa takut, peningkatan aktivitas tubuh, hingga zat kimia di otak yang membuat pengalaman tersebut terasa menyenangkan.

Wahana yang kini menjadi bagian dari bisnis taman hiburan ini sebenarnya bukan hiburan baru. Sejarahnya dapat ditelusuri hingga pertengahan abad ke-19, ketika jalur kereta yang memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengangkut batu bara di Pennsylvania, Amerika Serikat, mulai digunakan penumpang pada akhir pekan hanya untuk bersenang-senang.

Dijelaskan scientificamerican, salah satu daya tarik wahana halilintar kemungkinan berasal dari sensasi takut itu sendiri. Kondisi ini mirip dengan ketika seseorang menonton film horor.

Saat merasa takut, tubuh memunculkan respons fight or flight, yaitu reaksi alami untuk menghadapi atau menghindari ancaman. Jantung berdetak lebih cepat, napas meningkat, dan tubuh mendapatkan tambahan energi.

Penelitian terhadap penumpang sebuah wahana halilintar di Glasgow pada era 1980-an menunjukkan betapa kuatnya respons tersebut. Detak jantung penumpang meningkat lebih dari dua kali lipat, dari rata-rata 70 denyut per menit sebelum naik menjadi 153 denyut per menit sesaat setelah wahana dimulai.

Pada beberapa penumpang yang lebih tua, peningkatan detak jantung bahkan mendekati tingkat yang dianggap tidak aman secara medis untuk kelompok usia mereka, dikutip pada Minggu, 13 September 2026.

Stres Ternyata Tidak Selalu Buruk

Meski menimbulkan stres, pengalaman menaiki wahana halilintar tidak selalu dianggap negatif. Ada istilah eustress, yaitu bentuk stres positif yang justru dapat dicari dan dinikmati.

Hal ini terlihat dalam penelitian yang melibatkan mahasiswa penderita asma. Mereka diajak menaiki wahana halilintar sambil menjalani pemeriksaan fungsi pernapasan.

Hasilnya menarik. Fungsi paru-paru memang menurun akibat berteriak dan aktivitas selama menaiki wahana. Namun, sensasi sesak napas yang dirasakan peserta justru ikut berkurang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencari sensasi dapat merasakan pengalaman yang secara fisiologis menegangkan sebagai bentuk stres positif.

 

Dopamin Bisa Berperan dalam Kesukaan Mencari Sensasi

Tidak semua orang menyukai wahana halilintar. Perbedaan kimiawi di dalam otak mungkin ikut menjelaskan hal tersebut. Salah satu zat yang mendapat perhatian adalah dopamin, zat pembawa pesan kimiawi di otak yang berperan dalam sistem penghargaan.

Sebuah tinjauan penelitian menemukan bahwa orang dengan kadar dopamin lebih tinggi juga cenderung memiliki skor lebih tinggi dalam pengukuran perilaku pencari sensasi. Namun, hubungan ini belum membuktikan bahwa dopamin secara langsung menyebabkan seseorang menyukai pengalaman ekstrem.

Penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan haloperidol, zat yang mengganggu efek dopamin di otak, dapat menurunkan perilaku pencari sensasi.

Pertanyaan apakah orang semakin tidak menyukai wahana halilintar ketika bertambah tua belum diteliti secara langsung. Namun, survei mengenai minat terhadap aktivitas penuh tantangan seperti perjalanan panjat tebing menunjukkan bahwa ketertarikan mencapai puncaknya pada awal masa dewasa dan menurun setiap dekade.

Artinya, orang yang lebih tua cenderung lebih sedikit tertarik melakukan aktivitas yang memberikan sensasi serupa dengan wahana halilintar.

Â