Pahami Kebiasaan Sehari-hari untuk Jaga Kesehatan Jangka Panjang

Cek kesehatan gratis membantu deteksi dini. Kenali hasilnya dan ubah kebiasaan demi kesehatan jangka panjang.

Diterbitkan 13 September 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cek kesehatan gratis yang semakin digencarkan pemerintah menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pencegahan penyakit. Namun, pemeriksaan saja tidak cukup. Hasil pemeriksaan perlu ditindaklanjuti dengan perubahan gaya hidup agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Nutritionist & Health Expert, Dr. Rita Ramayulis, DCN., M.Kes., mengatakan, penguatan pendekatan preventif menunjukkan perubahan dalam cara masyarakat menjaga kesehatan. Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan seharusnya tidak hanya diberikan ketika seseorang sudah sakit.

"Padahal sesungguhnya, orang sehat jauh lebih banyak daripada orang sakit. Tapi kenapa segala sumber daya manusia yang ada di Kementerian Kesehatan malah banyak habis untuk orang sakit," ujar Rita dalam diskusi yang diadakan Amway Indonesia pada Sabtu, 12 September 2026. 

Cek Kesehatan Gratis Perkuat Upaya Preventif

Rita menjelaskan bahwa penguatan peran puskesmas menjadi salah satu bagian dari upaya preventif. Puskesmas tidak hanya berfungsi sebagai tempat berobat, tapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengecek kondisi kesehatan dan mendapatkan edukasi tentang hidup sehat.

"Puskesmas itu judulnya adalah Pusat Kesehatan Masyarakat. Jadi, orang mengecek kesehatannya, orang ini mendapatkan edukasi hidup sehat, orang ini mendapatkan konsep hidup sehat, itu ke puskesmas," katanya.

Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui program cek kesehatan gratis. Pemeriksaan yang sebelumnya diberikan bertepatan dengan ulang tahun masyarakat kini dibuat lebih fleksibel. Masyarakat dapat memanfaatkannya satu kali dalam setahun melalui puskesmas di wilayah masing-masing.

Pemeriksaan juga dilakukan dengan pendekatan jemput bola. Tidak hanya di puskesmas, layanan tersebut mulai dibawa ke sekolah dan perkantoran. "Jadi sekarang sudah jemput bola juga. Nah, kalau dibilang bagaimana trendnya hari ini, untuk preventif sangat tinggi sekali," ujar Rita.

Namun, akses pemeriksaan yang semakin luas masih menyisakan pekerjaan rumah. Masyarakat perlu memastikan hasil pemeriksaan tidak berhenti sebagai informasi semata.

 

Perubahan Gaya Hidup Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Rita, mengatakan, hasil pemeriksaan seharusnya menjadi dasar bagi masyarakat untuk mengevaluasi kebiasaan sehari-hari dan melakukan perubahan.

"Apakah hasil yang didapat itu sudah diimplementasikan untuk perubahan pelaku hidup sehatnya? Ini jadi PR," katanya.

Melalui pemeriksaan, masyarakat dapat mengetahui apakah kondisi tubuhnya masih normal, sudah memiliki faktor risiko, atau membutuhkan perhatian lebih lanjut. Masalahnya, informasi tersebut belum tentu langsung diikuti perubahan perilaku.

Oleh sebab itu, literasi kesehatan menjadi bagian penting dari upaya preventif. Masyarakat perlu memahami bukan hanya angka hasil pemeriksaan, tetapi juga apa yang dapat dilakukan setelah mengetahui hasil tersebut.

"Upaya untuk meningkatkan literasi kesehatan juga perlu dilakukan secara konsisten. Masyarakat perlu dibantu bukan hanya untuk mengetahui angka hasil pemeriksaannya, tapi juga memahami kebiasaan sehari-hari yang dapat mendukung kesehatan dalam jangka panjang," kata Rita.

Menjaga kesehatan jangka panjang tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh.

Edukasi mengenai nutrisi seimbang, kesehatan usus (gut health), gaya hidup aktif, dan kesehatan preventif menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

 

Memahami Kesehatan Metabolik Sejak Dini

Hal ini menunjukkan pentingnya memahami kesehatan metabolik sejak dini. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 10,7 persen pada umur 18 s.d 24 tahun dan 17,4 persen pada umur 25 hingga 34 tahun.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan perlu dibangun sejak usia muda, termasuk sebelum munculnya keluhan.

Dalam perjalanan menuju 35 tahun kehadirannya di Indonesia pada 2027, Amway Indonesia menargetkan menjangkau 3.500 keluarga melalui edukasi dan skrining metabolik mandiri untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan preventif.

"Selama hampir 35 tahun, Amway tumbuh bersama masyarakat Indonesia. Momentum menuju 35 tahun ini kami maknai bukan sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai kesempatan untuk memberikan dampak yang lebih nyata," ujar General Manager Amway Indonesia, M. Rizal Arnex.

Menurut Rizal, komitmen tersebut diwujudkan melalui dua fokus yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, yakni membantu lebih banyak orang memahami dan menjaga kesehatan serta membuka peluang untuk membangun sumber penghasilan tambahan melalui kewirausahaan.

Pada akhirnya, cek kesehatan gratis sebaiknya tidak berhenti pada mengetahui kondisi tubuh. Hasil pemeriksaan perlu menjadi dasar untuk mengevaluasi kebiasaan sehari-hari dan menentukan langkah berikutnya.

Rita mengingatkan agar hasil pemeriksaan tidak sekadar menjadi catatan kesehatan. "Supaya masyarakat juga lebih tahu, hari ini saya ngapain. Jangan hanya jadi rapor kesehatan saja," ujar Rita.

Perubahan gaya hidup pun dapat dimulai dari diri sendiri dan dilakukan secara konsisten. "Mulailah dari diri sendiri," pungkas Rita.