Liputan6.com, Jakarta - Orang yang telah menjalani perawatan kecantikan chemical peeling perlu menunda kegiatan olahraga dalam beberapa hari sesuai saran dokter.
Menurut dokter spesialis kulit, kelamin, dan estetika Khalishaturrahmi Nasution, chemical peeling adalah salah satu bentuk tindakan skin rejuvenation atau peremajaan kulit. Tujuannya agar tekstur lebih halus, warna kulit lebih merata, dan kulit tampak lebih sehat.
Advertisement
Chemical peeling dilakukan dengan mengaplikasikan bahan kimia pada kulit untuk menghasilkan cedera kulit terkontrol. Ini bukan hanya pada kulit wajah tapi juga area tubuh lainnya. Tindakan melibatkan eksfoliasi untuk regenerasi yang akhirnya memicu perbaikan tekstur, warna, dan kualitas kulit.
“Setelah tindakan, edukasinya untuk menunda olahraga indoor maupun outdoor. Karena kalau masalah olahraga itu biasanya yang berpengaruh setelah tindakan chemical peeling terutama di badan ada beberapa faktor yang pertama suhu ruangan ketika berolahraga,” kata Khalis kepada Kesehatan Liputan6.com dalam temu media bersama Bamed di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Selain suhu, paparan sinar matahari dan keringan saat olahraga juga bisa berpengaruh pada hasil tindakan chemical peeling. Beberapa efek samping yang bisa timbul akibat olahraga setelah tindakan misalnya kemerahan pada kulit menjadi lebih lama atau kulitnya malah jadi kehitaman.
“Jadi olahraga indoor maupun outdoor biasanya saya minta tunda dulu terutama jika peeling di badan misalnya ketiak, area bikini, punggung,” ujarnya.
Pergeseran Anti-aging Jadi Healthy Aging
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis kulit, kelamin, dan estetika, Adhimukti, menambahkan bahwa perawatan kulit bukan sekadar wajah. Kulit adalah organ terluas dari tubuh manusia dan semua bagiannya perlu dirawat juga.
“Sekarang istilahnya bukan anti-aging (anti penuaan) tapi healthy aging (menua dengan sehat),” kata Adhi.
Menurutnya, garis pemisah antara ranah estetik dan kesehatan kian tidak terlihat. Saat ini, semakin banyak pasien mencari solusi estetik sekaligus kesehatan secara keseluruhan.
Pasien ingin perawatan yang mencakup keduanya tapi tetap praktis, aman, minim tindakan bedah, serta memiliki waktu pemulihan yang singkat. Bukan hanya soal kulit tapi juga komposisi tubuh atau berat badan ideal. Menurutnya, pasien modern memiliki aktivitas yang dinamis sehingga membutuhkan pilihan treatment yang dapat memberikan hasil optimal tanpa mengganggu keseharian.
“Perkembangan teknologi medis menjadi sangat penting untuk menjawab kebutuhan tersebut, salah satunya melalui teknologi seperti Emsculpt Neo yang mendukung pendekatan non-surgical untuk membantu pembentukan otot, pengurangan lemak, serta perbaikan komposisi tubuh.”
“Namun, kami juga selalu mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, sehingga setiap inovasi yang dihadirkan tetap harus melalui evaluasi medis yang tepat, berbasis evidence-based medicine, mengutamakan keamanan pasien, serta sesuai dengan kebutuhan individu,” tambahnya.
Lebih lanjut, Adhi menekankan bahwa hasil terbaik dalam aesthetic dan wellness membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, bukan hanya mengandalkan satu tindakan. Menurutnya, berbagai aspek kesehatan seperti berat badan, metabolisme, kesehatan kulit, dan kondisi tubuh secara keseluruhan saling berkaitan sehingga perlu ditangani secara menyeluruh.
“Kami melihat pasien secara holistik, mulai dari kondisi kesehatan, kebutuhan tubuh, hingga dukungan teknologi medis yang tepat. Tujuannya bukan hanya memberikan hasil estetika, tetapi membantu pasien mencapai kesejahteraan yang lebih optimal dan berkelanjutan,” jelasnya.