Kunang-Kunang Kian Langka, Pakar Sebut Terkait Kesehatan Ekosistem

Penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 22 Juni 2026, 18:00 WIB
Kunang-Kunang Semakin Jarang Ditemui, Cerminan Menurunnya Kesehatan Ekosistem. Foto dibuat oleh AI.

Liputan6.com, Jakarta - Kunang-kunang kian sulit ditemui di beberapa lingkungan. Menurut dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, fenomena ini memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Dia mengatakan, kelangkaan kunang-kunang menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan.

“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” jelas Upik mengutip laman resmi IPB, Senin (22/6/2026).

Ia mengungkapkan, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam. Bahkan beberapa spesies khas Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah masuk kategori rentan.

“Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” ujar Upik.

Menurut dia, kerusakan habitat menjadi faktor utama penyebab menurunnya populasi kunang-kunang. Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan pemukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.

Polusi Cahaya Ganggu Perkawinan Kunang-Kunang

Selain itu, polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi. Faktor lain yang turut berperan adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, serta urbanisasi yang semakin masif.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di habitat yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas pencemaran. Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga habitat kunang-kunang.

Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat membantu mempertahankan populasi serangga unik tersebut.

“Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya