Kunang-Kunang Kian Menghilang, Tanda Kesehatan Lingkungan Menurun

Ahli ungkap alasan di balik kunang-kunang disebut sebagai bioindikator vital kesehatan lingkungan.

Diterbitkan 23 Juni 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kunang-kunang mengalami penurunan populasi secara global. Riset yang diterbitkan Science of The Total Environment mengonfirmasi bahwa populasi kunang-kunang benar-benar menurun.

“Menghilangnya kunang-kunang adalah indikasi menurunnya kesehatan lingkungan. Ini secara ilmiah sangat kuat karena kunang-kunang secara ekologis berfungsi sebagai bioindikator vital kesehatan lingkungan,” kata ahli kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, kepada Kesehatan Liputan6.com saat dihubungi Senin (22/6/2026).

Lantas, mengapa kunang-kunang bisa menjadi bioindikator kesehatan lingkungan?

“Karena siklus hidupnya multihabitat yang sangat kompleks. Kondisi ini membuat hewan ini sangat sensitif terhadap semua parameter kualitas lingkungan secara umum.”

Pada tahap larva, kunang-kunang hidup di tanah dalam waktu satu hingga dua tahun. Setelah itu, larva masuk ke fase pupa atau kepompong dengan habitat di tanah atau lumut lembap selama tiga sampai empat minggu. Pada tahap dewasa, kunang-kunang hidup di vegetasi tepian air.

“Ancaman yang terdeteksi pada level larva adalah pestisida, kekeringan, perubahan iklim. Kalau pada pupa ya kompresi tanah dan urbanisasi,” ujar Dicky.

Kehilangan habitat, polusi, dan penggunaan insektisida menjadi alasan mengapa kunang-kunang tak dapat bertahan dari fase ke fase. Pola iklim dan cuaca disinyalir kuat memberi ancaman paling besar karena larva kunang-kunang sangat bergantung pada kelembapan tanah untuk bertahan hidup.

“Urbanisasi, perluasan pertanian dan deforestasi juga secara langsung menghancurkan habitat basah, hutan, dan rawa yang esensial bagi siklus hidup kunang-kunang.”

Dari perspektif One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan), hilangnya kunang-kunang adalah sinyal cascade ecological.

“Jadi, kalau serangga yang sangat sensitif ini tidak bisa bertahan, maka ekosistem tersebut telah kehilangan integritas fundamentalnya. Artinya memengaruhi ekosistem yang manusia butuhkan yaitu air bersih, tanah subur, dan rantai pangan,” ujar Dicky.

Dampak Polusi Cahaya

Dalam keterangan lain, dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, menambahkan soal dampak polusi cahaya.

Menurutnya, polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi. Faktor lain yang turut berperan adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, serta urbanisasi yang semakin masif.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di habitat yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas pencemaran. Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital. Maka dari itu ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga habitat kunang-kunang.

Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat membantu mempertahankan populasi serangga unik tersebut.

“Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkas Upik.