Pakar Ungkap Alasan Hilangnya Kunang-Kunang Perlu Diwaspadai

Di balik hilangnya kunang-kunang, tersimpan sinyal penting tentang kondisi lingkungan sekitar.

Diterbitkan 25 Juni 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Riset yang diterbitkan Science of The Total Environment mengonfirmasi bahwa populasi kunang-kunang menurun secara global. Menurut ahli kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, hilangnya kunang-kunang menandakan penurunan kesehatan lingkungan.

"Tentu kita harus bergerak menjaga atau memperbaiki kesehatan lingkungan ini, jadi mengurangi polusi termasuk polusi cahaya karena polusi ini mengganggu sinyal bioluminescence kunang-kunang untuk kawin," kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com saat dihubungi Senin (22/6/2026).

Dicky membandingkan bahwa di negara maju, malam hari relatif gelap karena cahaya digunakan seperlunya. Selain mengatur cahaya, pemulihan habitat mikro juga penting seperti rumput tinggi, kayu busuk, dan daerah rawa yang penting untuk dijaga.

"Biarkan sebagian area taman atau kebun kita itu alami, juga kurangi atau hindari penggunaan pestisida, pertahankan juga vegetasi tepi sungai saluran air. Pengurangan pestisida termasuk insektisida ini sangat penting karena ini dapat mengurangi dampak pada larva atau fase dewasa dari kunang-kunang," tambahnya.

Bicara kualitas air, sambungnya, perbaikan kualitas air di area-area sekitar juga penting dijaga. Sebab, kunang-kunang hidup di tanah lembap dan dekat air.

Sehingga Dicky menyarankan agar tidak membuang limbah ke saluran air, pilah atau pisah pembuangan detergen dan limbah rumah tangga.

"Pemerintah juga perlu peduli karena dalam konteks ini perlu peran besar dari pemerintah misalnya dalam mengatur tata kota, evaluasi izin bangunan di zona tepi sungai, mengatur penggunaan pestisida, dan pencahayaan luar ruangan," ujarnya.

Mengapa Kunang-Kunang Disebut Indikator Kesehatan Lingkungan?

Kunang-kunang secara ekologis berfungsi sebagai bioindikator vital kesehatan lingkungan. Artinya, ketiadaan kunang-kunang menandakan penurunan kualitas kesehatan lingkungan.

"Menghilangnya kunang-kunang adalah indikasi menurunnya kesehatan lingkungan. Ini secara ilmiah sangat kuat karena kunang-kunang secara ekologis berfungsi sebagai bioindikator vital kesehatan lingkungan," kata Dicky.

Lantas, mengapa kunang-kunang bisa menjadi bioindikator kesehatan lingkungan?

"Karena siklus hidupnya multihabitat yang sangat kompleks. Kondisi ini membuat hewan ini sangat sensitif terhadap semua parameter kualitas lingkungan secara umum," ujarnya.

Pada tahap larva, kunang-kunang hidup di tanah dalam waktu satu hingga dua tahun. Setelah itu, larva masuk ke fase pupa atau kepompong dengan habitat di tanah atau lumut lembap selama tiga sampai empat minggu.

Pada tahap dewasa, kunang-kunang hidup di vegetasi tepian air. "Ancaman yang terdeteksi pada level larva adalah pestisida, kekeringan, perubahan iklim. Kalau pada pupa ya kompresi tanah dan urbanisasi," ujar Dicky.

Kehilangan habitat, polusi, dan penggunaan insektisida menjadi alasan mengapa kunang-kunang tak dapat bertahan dari fase ke fase.

Pola iklim dan cuaca disinyalir kuat memberi ancaman paling besar karena larva kunang-kunang sangat bergantung pada kelembapan tanah untuk bertahan hidup.

"Urbanisasi, perluasan pertanian dan deforestasi juga secara langsung menghancurkan habitat basah, hutan, dan rawa yang esensial bagi siklus hidup kunang-kunang," tambahnya.

Dari perspektif One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan), hilangnya kunang-kunang adalah sinyal cascade ecological.

"Jadi, kalau serangga yang sangat sensitif ini tidak bisa bertahan, maka ekosistem tersebut telah kehilangan integritas fundamentalnya. Artinya memengaruhi ekosistem yang manusia butuhkan yaitu air bersih, tanah subur, dan rantai pangan," ujar Dicky.

Hewan Lain yang Jadi Indikator Kesehatan Lingkungan

Selain kunang-kunang, hewan yang dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan adalah katak dan amfibi lainnya. Umumnya, ketiadaan katak di daerah perairan menjadi tanda adanya polusi air.

"Juga ada lebah sebagai indikator kesehatan ekosistem, tonggeret (riang-riang) juga sama," kata Dicky.

Selain hewan, ada pula tumbuhan yang dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan, salah satunya lichen alias lumut kerak.

Ini merupakan tumbuhan indikator yang peka terhadap pencemaran udara. Jika lumut ini absen di perkotaan, maka artinya kualitas udara buruk.

"Kalau bicara pemetaan bioindikator berdasarkan komponen lingkungan, misalnya kualitas air sungai, biasanya ini bisa kita lihat dari amfibi seperti katak dan salamander," tambahnya.

Hewan amfibi ini sangat sensitif terhadap polutan air dan sering menunjukkan kelainan perkembangan atau berkurangnya keberhasilan reproduksi di lingkungan yang tercemar.

"Kalau udara atau lingkungan darat, itu misalnya lebah madu. Lebah madu ini terbukti jadi biomonitor yang sangat berharga dalam melihat polutan tanah dan udara," pungkasnya.

Selain itu, ada burung walet yang berpotensi sebagai bioindikator resistensi antimikroba lingkungan. Â