Liputan6.com, Jakarta - GERD atau gastroesophageal reflux disease tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga bisa dialami anak-anak. Pada anak di bawah 10 tahun, sekitar 2 persen mengalami kondisi itu. Sementara itu, pada anak di atas 10 tahun prevalensinya meningkat sekitar 5 persen.
Dokter spesialis anak konsultan gastroenterohepatologi, Sri Kesuma Astuti, mengatakan GERD bisa terjadi pada anak sehat alias tanpa penyakit penyerta. Pada kondisi ini maka akan disarankan melakukan modifikasi gaya hidup dan menghindari makanan tertentu.
Advertisement
Beberapa perubahan yang disarankan antara lain menghindari makan 2–3 jam sebelum tidur, mengatur porsi dan jenis makanan, serta mengurangi makanan yang dapat memicu peningkatan asam lambung.
"Anak sekarang itu main gadget berjam-jam dengan posisi tidur lalu sambil ngemil, itu bisa bikin refluks. Maka dari itu hindari kebiasaan ini," kata Sri dalam media briefing daring bersama IDAI pada Selasa (23/6/2026).
Ia pun mengingatkan untuk anak-anak dengan GERD untuk menghindari atau membatasi makanan berlemak, pedas, cokelat, dan minuman bersoda.
"Makanan pedas dapat merangsang peningkatan produksi asam lambung. Sementara itu, makanan berlemak cenderung lebih lama bertahan di lambung karena proses pencernaannya lebih lambat, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya refluks asam lambung ke kerongkongan,” katanya.
Sri pun memahami anak-anak sulit lepas dari cokelat mengingat ini adalah makanan atau minuman favorit. Ia pun mengatakan bahwa terpenting dibatasi alias sesekali boleh.
“Yang terpenting perlu tahu ada risiko bahwa cokelat bisa memicu asam lambung naik,” jelasnya.
Jika keluhan tidak membaik dengan perubahan gaya hidup, dokter dapat memberikan obat penekan asam lambung atau merujuk pasien ke dokter spesialis gastroenterologi untuk evaluasi lebih lanjut.
Gejala GERD Tidak Spesifik
Sri mengungkapkan gejala dan tanda klinis GERD pada anak cukup luas. Lalu, tidak spesifik sehingga tidak selalu langsung mengarah pada diagnosis GERD.
Keluhan yang dapat muncul antara lain anak menjadi rewel, menolak makan, hingga muntah. Pada kondisi yang lebih berat, muntah dapat disertai darah, serta nyeri dada dan rasa tidak nyaman di ulu hati.
Selain gejala pada saluran cerna, GERD juga dapat menimbulkan manifestasi pada saluran napas, seperti asma yang sulit membaik, pneumonia berulang, hingga sesak napas (dispnea).
Karena gejalanya tidak khas dan sangat beragam, kondisi ini sering kali membutuhkan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan diagnosis yang tepat.