Beda Asam Urat dan Rematik, Ketahui dari Gejala

Banyak orang sulit mengenal asam urat dan rematik karena sama-sama menyerang persendian, dokter ungkap bedanya.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 06 Juli 2026, 10:01 WIB
Beda Asam Urat dan Rematik, Ketahui Mulai dari Gejala. (Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin).

Liputan6.com, Jakarta - Asam urat dan rematik kerap sulit dibedakan karena keduanya sama-sama menimbulkan keluhan pada persendian, seperti nyeri, bengkak, dan gangguan gerak.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam RS EMC Alam Sutera, Andrian Setiabakti, sebenarnya asam urat dan rematik adalah dua penyakit yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, maupun penanganannya.

“Kesalahan dalam memahami kondisi ini bisa membuat pengobatan tidak tepat dan meningkatkan kemungkinan kerusakan sendi dalam waktu yang lama,” kata Andrian mengutip laman EMC, Senin (6/7/2026).

Meskipun sama-sama menyerang sendi, asam urat dan rematik memiliki mekanisme penyakit yang berbeda:

Asam Urat

Asam urat atau gout adalah peradangan sendi yang terjadi akibat penumpukan kristal monosodium urat (MSU) pada persendian. Kondisi ini muncul ketika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi sehingga membentuk kristal yang memicu peradangan dan nyeri hebat.

Rematik

Sementara itu, rematik yang sering merujuk pada rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan sendi yang sehat sehingga menyebabkan peradangan kronis.

“Perbedaan mendasar lainnya adalah pola kemunculan gejala. Asam urat sering muncul dengan cara mendadak dan tiba-tiba, sedangkan rematik datang secara perlahan dan bisa terus berlangsung selama waktu yang lama,” jelas Andrian.

Beda Penyebab Asam Urat dan Rematik

Penyebab Asam Urat

Asam urat terjadi ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak asam urat atau ginjal tidak mampu membuangnya secara optimal. Akibatnya, kadar asam urat dalam darah meningkat dan membentuk kristal pada sendi.

Beberapa hal yang bisa membuat risiko asam urat semakin tinggi adalah:

  • Makanan yang mengandung tinggi purin, seperti jeroan, daging merah, dan seafood
  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Diabetes mellitus
  • Hipertensi
  • Konsumsi minuman beralkohol
  • Kurang minum air putih
  • Penggunaan obat tertentu, seperti diuretik
  • Penyebab Rematik.

Rematik atau rheumatoid arthritis terjadi akibat gangguan autoimun yang menyebabkan sistem imun menyerang lapisan sendi (synovium). Peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat merusak tulang rawan, tulang, dan struktur sendi lainnya.

Beberapa faktor yang diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko rematik meliputi:

  • Faktor genetik atau riwayat keluarga
  • Kebiasaan merokok
  • Paparan infeksi tertentu
  • Perubahan hormon
  • Jenis kelamin, perempuan memiliki risiko lebih tinggi dibanding laki-laki.

Gejala Kerap Tertukar

Perbedaan gejala adalah cara yang paling mudah untuk memahami perbedaan antara asam urat dan rematik. Meskipun sama-sama menyebabkan nyeri sendi, karakteristik keluhannya berbeda.

Gejala Asam Urat

Serangan asam urat biasanya muncul secara tiba-tiba dan sering kali terjadi pada malam hari. Beberapa gejalanya meliputi:

  • Nyeri sendi yang muncul mendadak
  • Sendi terasa panas, merah, dan bengkak
  • Paling sering menyerang sendi jempol kaki
  • Menyerang pergelangan kaki, tangan, lutut, atau siku
  • Serangan dapat kambuh berulang
  • Pada kondisi kronis dapat terbentuk benjolan kristal asam urat yang disebut tophi.

Gejala Rematik

Gejala rematik umumnya berkembang secara perlahan dan berlangsung dalam waktu lama. Gejalanya antara lain:

  • Nyeri dan kaku pada sendi yang berlangsung kronis
  • Kekakuan sendi terutama pada pagi hari
  • Sering menyerang kedua sisi tubuh
  • Mudah lelah dan merasa tidak bertenaga
  • Berisiko menyebabkan perubahan bentuk atau deformitas sendi bila tidak ditangani dengan baik.

Penanganan Asam Urat dan Rematik

Karena penyebabnya berbeda, pengobatan asam urat dan rematik juga tidak sama.

Penanganan Asam Urat

Tujuan utama terapi asam urat adalah mengurangi peradangan saat serangan terjadi dan menurunkan kadar asam urat untuk mencegah kekambuhan. Dokter dapat memberikan:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
  • Colchicine
  • Kortikosteroid pada kondisi tertentu
  • Obat penurun kadar asam urat (allopurinol atau febuxostat)
  • Selain itu, pasien juga dianjurkan mengatur pola makan dan menghindari makanan tinggi purin.

Penanganan Rematik

Penanganan rematik bertujuan mengendalikan aktivitas sistem imun dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut. Pilihan terapi yang umum digunakan meliputi:

  • Disease-Modifying Antirheumatic Drugs (DMARDs)
  • Kortikosteroid
  • Terapi biologis sesuai indikasi dokter
  • Fisioterapi dan latihan sendi
  • Perubahan gaya hidup untuk menjaga fungsi sendi.

Pengobatan rematik biasanya memerlukan pemantauan jangka panjang oleh dokter spesialis penyakit dalam atau reumatologi.

Jaga Sendi Tetap Sehat

Menjaga kesehatan sendi penting dilakukan untuk membantu mengurangi risiko gangguan persendian, termasuk asam urat dan rematik. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membatasi makanan tinggi purin membantu mengurangi risiko serangan asam urat
  • Menjaga berat badan ideal dapat mengurangi tekanan pada sendi
  • Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau berenang dapat membantu menjaga fleksibilitas sendi
  • Berhenti merokok dan tidur cukup membantu mengurangi risiko peradangan kronis
  • Pemeriksaan kesehatan rutin penting untuk mendeteksi gangguan sendi sejak dini.

Nyeri sendi tidak boleh dianggap sepele, terutama jika keluhan terus berulang atau semakin berat. Lakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami kondisi berikut ini:

  • Nyeri sendi muncul mendadak dan sangat berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Sendi tampak bengkak, kemerahan, atau terasa panas
  • Keluhan tidak membaik dalam beberapa hari
  • Kekakuan sendi terjadi setiap pagi dan berlangsung lama
  • Nyeri sendi disertai demam atau kelelahan yang berkepanjangan
  • Terjadi perubahan bentuk sendi.

Pemeriksaan oleh dokter penting untuk memastikan penyebab nyeri sendi sekaligus menentukan terapi yang paling sesuai. Dengan diagnosis yang benar, risiko terjadinya komplikasi serta kerusakan sendi dalam jangka waktu yang lama bisa diminimalkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya