Liputan6.com, Jakarta - Cuaca panas ekstrem di Eropa memicu kerusakan infrastruktur bahkan kematian. Menurut ahli kesehatan lingkungan, dokter Dicky Budiman, Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Sekitar dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.
Lantas, apakah panas ekstrem di Eropa bisa dirasakan sampai ke Indonesia?
Advertisement
“Jawaban singkatnya, tidak dalam bentuk yang sama tapi Indonesia tetap memiliki risiko panas ekstrem yang meningkat,” kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com melalui pesan suara, dikutip Senin (6/7/2026).
“Gelombang panas yang terjadi di Eropa ini merupakan fenomena regional, jadi tidak berpindah ke Indonesia,” tambahnya.
Meski begitu, Indonesia sedang mengalami dampak perubahan iklim berupa peningkatan suhu rata-rata atau heat index (suhu yang dirasakan tubuh). Yang perlu diketahui, sambungnya, panas di Indonesia justru bisa terasa lebih berbahaya dibandingkan di beberapa wilayah Eropa. Pasalnya, kelembapan udaranya sangat tinggi.
“Saat kelembapan tinggi, keringat itu sulit menguap sehingga mekanisme pendinginan alami tubuh jadi kurang efektif akibatnya risiko heat stroke, dehidrasi, hingga gangguan jantung, dapat meningkat lebih tinggi dibanding Eropa meski suhu di kita mungkin hanya di kisaran 34-36 derajat Celcius,” paparnya.
El Nino di Indonesia
Baru-baru ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak El Nino yang picu kemarau lebih panjang dan kering terjadi pada Juli hingga September 2026.
Untuk itu, BMKG mengimbau perlunya respons cepat antisipasi polusi udara pemicu Infeksi Saluran Napas Akut (ISPA) di puncak kemarau El Nino.
“Pemda (Pemerintah Daerah) wajib siapkan respons cepat antisipasi polusi udara pemicu ISPA,” mengutip keterangan resmi BMKG.
Seperti diketahui, musim kemarau panjang yang lebih panas meningkatkan risiko kebakaran hutan. Di mana asapnya dapat memicu ISPA jika terhirup.
Terkait hal ini, Dicky mengatakan bahwa El Nino bukan penyebab langsung penyakit.
“Jadi, El Nino itu meningkatkan berbagai faktor risiko lingkungan yang akhirnya berdampak pada kesehatan. El Nino umumnya menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan, dan memperburuk kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi partikulat halus,” kata Dicky.
Dicky pun merinci beberapa penyakit yang risikonya meningkat di musim kemarau panjang El Nino, yakni:
- ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) terutama pada anak dan lanjut usia (lansia)
- Serangan asma yang lebih sering dan berat
- Perburukan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
- Pneumonia
- Iritasi mata, hidung, tenggorokan
- Memperberat penyakit kardiovaskular termasuk jantung dan stroke.
“Karena paparan dari partikel halus PM2.5 meningkatkan peradangan sistemik dan risiko pembekuan darah,” ujar Dicky.
El Nino Bisa Picu Wabah Baru
Dicky mengatakan bahwa ISPA bukan satu-satunya penyakit yang bisa muncul gara-gara El Nino. Kemarau yang lebih panjang dan kering akibat El Nino bahkan bisa memicu masalah yang lebih serius seperti munculnya wabah baru.
“El Nino bukan hanya bisa memicu ISPA, El Nino itu bisa membuat suatu potensi wabah baru penyakit. Bahkan, El Nino juga bisa memicu pandemi secara tidak langsung,” ujar Dicky.
Dia memberi contoh, salah satu wabah yang terjadi akibat El Nino adalah kasus virus Nipah di Malaysia pada 1990-an. Terjadinya peristiwa ini tidak dapat dipisahkan dari peran El Nino. Sebelum wabah, Malaysia kala itu dilanda El Nino selama satu tahun, hal inilah yang memicu kemarau panjang dan kering. Situasi alam memaksa kelelawar sebagai pembawa virus Nipah melakukan kontak dengan hewan ternak.
“Kelelawar-kelelawar kesulitan mendapatkan makanan, jadi mereka bergerak mendekati pemukiman untuk mendapatkan makanan. Nah, itu adanya di peternakan babi, di situlah terjadi kontak antara kotoran kelelawar jatuh menimpa makanan atau tubuh babi yang akhirnya dimakan.”
Kemudian, babi kontak dengan manusia sehingga memicu wabah. Ini adalah salah satu contoh dampak tidak langsung dari El Nino.