Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mengira keberhasilan menurunkan berat badan hanya ditentukan oleh pola makan. Padahal, tidur yang cukup dan berkualitas juga berperan penting. Sayangnya, hubungan antara kualitas tidur dan berat badan masih sering diabaikan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur, baik karena durasinya terlalu singkat maupun kualitasnya buruk, dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan berbagai penyakit kronis.
Salah satu penelitian dari Universitas Columbia mencoba melihat dampak kurang tidur dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan studi tidur pada umumnya yang dilakukan di laboratorium, penelitian ini berlangsung di rumah masing-masing peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa mengurangi waktu tidur sekitar 90 menit setiap malam selama enam minggu dapat memengaruhi berat badan, seperti dikutip dari Eating Well, Kamis (16/7/2026).
Advertisement
Penelitian tersebut melibatkan 95 orang dewasa berusia di atas 20 tahun, dengan 76 persen di antaranya perempuan. Studi dilakukan dalam dua fase.
Pada fase pertama, peserta mempertahankan pola tidur normal dengan durasi sekitar tujuh hingga sembilan jam per malam. Pada fase lainnya, waktu tidur mereka sengaja dipangkas sekitar 90 menit dengan tidur lebih larut dari biasanya.
Urutan kedua fase dilakukan secara acak dan masing-masing berlangsung selama enam minggu, dipisahkan jeda empat hingga enam minggu untuk meminimalkan pengaruh antarperiode.
Selama penelitian, peneliti mengumpulkan berbagai data, mulai dari tinggi dan berat badan, lingkar pinggang, persentase lemak tubuh, hingga hasil pemeriksaan darah dan urine. Pola tidur dan aktivitas fisik dipantau menggunakan perangkat yang dikenakan peserta serta dicatat melalui buku harian tidur.
Hasil dari Penelitian Terkait Kualitas Tidur
Hasilnya, peserta rata-rata tidur hampir 80 menit lebih sedikit selama fase pembatasan tidur. Pada akhir fase tersebut, mereka mengalami kenaikan berat badan rata-rata sekitar satu pon (0,45 kilogram) dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam kondisi tidak aktif dibandingkan saat tidur cukup.
Temuan ini menunjukkan bahwa kurang tidur kronis, meski hanya sekitar 90 menit setiap malam, dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang bermakna jika berlangsung dalam jangka panjang.
Meski demikian, peneliti mengakui penelitian ini memiliki keterbatasan. Jumlah peserta dan durasi penelitian relatif terbatas.
Selain itu, studi ini tidak dirancang untuk membandingkan hasil berdasarkan jenis kelamin atau status menopause, sehingga belum diketahui apakah efeknya berbeda pada pria, wanita pramenopause, maupun pascamenopause.
Sejauh ini, sebagian besar penelitian merekomendasikan durasi tidur ideal selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam dengan kualitas tidur yang baik.
Kurang tidur dan kualitas tidur yang buruk telah lama dikaitkan dengan penurunan harapan hidup serta meningkatnya risiko berbagai penyakit, seperti hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, diabetes, stroke, obesitas, hingga depresi.
Oleh sebab itu, tidur memiliki peran yang sama pentingnya dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik dalam menjaga kesehatan.
Salah satu mekanisme yang diduga menjadi penyebabnya adalah meningkatnya peradangan di dalam tubuh akibat kurang tidur. Peradangan kronis diketahui berkaitan dengan berbagai penyakit tersebut sekaligus dapat menghambat keberhasilan program penurunan berat badan.