Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tua mencari rahasia bekal anak selalu habis, mulai dari membuat bekal dengan bentuk yang menarik hingga mengikuti menu yang sedang viral di media sosial. Namun, menurut Certified Positive Discipline Parent Educator Damar Wijayanti, kuncinya justru bukan pada tampilan makanan, melainkan komunikasi sederhana dengan anak.
"Jangan sampai bikin kita stres, sehingga malah bikin anak pressure atau tertekan. Itu yang bikin usaha-usaha kita gagal untuk bikin anak senang makan bekal kita, habisin bekal kita," ujar Damar.
Advertisement
Jangan Terlalu Memaksakan Diri
Damar, menjelaskan, banyak orang tua tanpa sadar memberikan tekanan kepada anak karena merasa sudah mengeluarkan banyak usaha untuk menyiapkan bekal.
Mulai dari membeli bahan makanan, bangun lebih pagi, hingga membuat bekal dengan bentuk yang menarik, semua dilakukan dengan harapan bekal tersebut dihabiskan oleh anak. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, rasa kecewa pun muncul dan akhirnya menjadi tekanan bagi anak.
Menurut Damar, orang tua sebaiknya menyiapkan bekal sesuai kemampuan tanpa harus merasa dituntut membuat bekal yang sempurna seperti yang sering terlihat di media sosial. "Sering kali kita membandingkan. Kayak, 'Aduh mama ini bikin ini, mama itu bikin itu'. Padahal yang cocok sama anak orang belum tentu cocok sama anak kita," katanya.
Rahasia Bekal Anak Selalu Habis Berawal dari Obrolan
Alih-alih terus mencoba berbagai menu, Damar menyarankan orang tua lebih dulu mengenali preferensi anak melalui percakapan sehari-hari.
Orang tua bisa menanyakan makanan favorit anak, bekal teman yang menarik perhatian mereka, atau rasa makanan yang paling disukai.
"Sering-sering ngobrol sama anak kita. Apa sih yang kamu suka? Ada nggak bekal dari teman kamu yang kamu pengin review? Dari obrolan ini kita jadi lebih banyak tahu anak kita penginnya seperti apa," ujar Damar.
Melalui obrolan sederhana tersebut, orang tua bisa mengetahui apakah anak lebih menyukai makanan gurih, manis, atau jenis makanan tertentu. Dengan begitu, proses menyiapkan bekal menjadi lebih efektif tanpa harus terus melakukan trial and error.
Menurut Damar, rahasia bekal anak selalu habis bukan terletak pada bentuk bekal yang rumit atau menu yang sedang viral. Yang lebih penting adalah memahami selera anak sehingga bekal yang disiapkan sesuai dengan preferensinya.
Picky Eater Perlu Dikenalkan Makanan Baru Secara Bertahap
Damar juga menyoroti tantangan menghadapi anak yang picky eater. Menurutnya, memberikan makanan yang sama setiap hari memang membuat anak mau makan, tetapi kebiasaan itu dapat menghambat perkembangan selera makan.
Sebaliknya, memberikan satu kotak bekal yang seluruh isinya merupakan makanan baru juga bukan solusi karena anak berpotensi menolak semuanya.
Untuk mengatasinya, Damar menyarankan konsep "something familiar and something new" dalam satu kotak bekal. "Misalnya ada tiga sekat, dua sekat makanan yang familiar buat dia, satunya lagi makanan baru yang kita mau dia coba cicipi," ujarnya.
Dengan cara tersebut, anak tidak merasa kewalahan karena tetap memiliki makanan yang sudah dikenalnya sebagai "zona aman". Jika makanan baru ternyata tidak sesuai selera, anak masih memiliki pilihan makanan lain sehingga lebih berani mencoba hal baru.
"Dia masih punya safety net. Kalau aku cicip sedikit ternyata aku nggak suka, aku masih punya ini. Jadi dia cukup aman untuk makan," pungkas Damar.