Ibu Mengalami Baby Blues, Apa Dampaknya bagi Buah Hati?

Dokter mengatakan kala ibu mengalami baby blues maka bisa memengaruhi hubungan dengan buah hati.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 30 Juli 2026, 11:01 WIB
Dokter anak Jessica Sugiharto jelaskan tentang dampak ibu dengan baby blues pada bayinya. (Kanaya Nanda Putri/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Baby blues dialami sekitar 30-80 persen ibu baru melahirkan. Kondisi ini umumnya berlangsung di minggu-minggu pertama melahirkan yang ditandai dengan perubahan mood yang cepat, rasa cemas, kelelahan, kesedihan yang mendalam, dan kadang-kadang sulit untuk menjalin ikatan dengan bayi.

Meski umumnya tidak bersifat permanen, baby blues ini tidak bisa dianggap sepele karena dapat memengaruhi hubungan dengan sang buah hati.

“Kalau ibu stres, otomatis akan ada kontak batin sama anak,” ujar dokter spesialis anak Jessica Sugiharto.

Ketika mengalami stres yang cukup tinggi, hal tersebut otomatis berpengaruh pada anak karena adanya ikatan batin sejak awal kehidupan. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi ibu. Ketika bayi terus menangis atau rewel, ibu yang sedang mengalami baby blues bisa merasa semakin tertekan. Hal tersebut membuat ibu juga melakukan hal serupa, menolak untuk menggendong, memberi susu, dan lainnya. 

Pada kondisi yang berat, gangguan psikologis pascapersalinan dapat membahayakan keselamatan ibu maupun bayi sehingga membutuhkan penanganan medis dengan mengontak psikolog atau psikiater. 

Baby Blues Dipengaruhi oleh Hormon

potret ibu baru yang sedang menyusui bayinya/copyright freepik.com/freepik

Jessica menjelaskan baby blues dipicu perubahan hormon yang terjadi setelah persalinan. Perubahan hormon yang cukup drastis membuat emosi ibu menjadi lebih sensitif selama masa adaptasi.

Emosi yang dihasilkan cenderung akan fluktuatif atau naik-turun tidak menentu. Alhasil, ibu bisa menjadi lebih mudah sedih, marah, stres, bahkan pada kondisi berat bisa berujung tindakan fatal. 

Jessica menjelaskan bahwa kondisi semacam ini memang sering terjadi dan salah satu cara menanganinya adalah dengan pendampingan penuh.  Suami sebagai pendukung utama, diikuti orang tua, keluarga, dan orang terdekat lainnya akan sangat berperan penting untuk membantu ibu melalui fase baby blues

Lalu, selain pendampingan orang-orang terdekat, apakah sang ibu mampu menyelesaikannya sendiri? Menurut Jessica bahwa secara hormonal, kondisinya akan cenderung sulit, dikarenakan lonjakan hormon. 

Meski begitu, ibu dengan kondisi usia dan mental yang sudah matang sebelum hamil dan melahirkan, dapat mengetahui apa yang harus dilakukan. Hal ini disokong dengan pendampingan, edukasi, dan persiapan sejak dini, sehingga mampu meminimalisir risiko terjadinya baby blues. 

“Makin matang usia ibunya, maksudnya dari edukasi sebelum melahirkan, itu dia udah tau apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan, sehingga bisa menurunkan risiko baby blues,” 

“Jadi nanti kalau ibu sampai ke tahap itu, paling nggak dia bisa tahu kondisinya, dan tahu harus cari bantuan ke mana,” tutup Jessica. 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya