Liputan6.com, Jakarta - Kesadaran masyarakat terhadap program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) terus meningkat. Hal itu terlihat dari perubahan perilaku pasangan yang berkonsultasi mengenai infertilitas. Jika dulu perempuan lebih sering datang lebih dulu, kini justru semakin banyak laki-laki yang mengambil inisiatif untuk memulai konsultasi.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi sekaligus Presiden Direktur PT Morula Indonesia, Dr. dr. Ivan R. Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, Sp.OG, mengatakan, fenomena tersebut menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai kesehatan reproduksi semakin baik.
Advertisement
"Dulu kalau banyak pasangan datang, cuma perempuannya saja. Sekarang malah kadang-kadang datang sudah cowoknya duluan. Karena memang awareness terhadap bayi tabung itu sudah semakin tinggi," kata Ivan di '28 Years of Delivering Hope' Morula IVF Indonesia belum lama ini.
Menurutnya, perubahan ini menjadi sinyal positif karena program bayi tabung bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan. Pemeriksaan kesuburan perlu dilakukan oleh kedua pasangan agar penyebab infertilitas dapat diketahui sejak dini dan penanganannya lebih tepat.
Meski demikian, Ivan menilai masih banyak pasangan yang menunda menjalani pemeriksaan atau program kehamilan hingga usia tidak lagi ideal. Padahal, usia menjadi salah satu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan program bayi tabung.
"Yang memang perlu terus kita edukasi adalah bahwa hasil program sangat bergantung pada usia perempuan," ujarnya.
Dia, menjelaskan, peluang keberhasilan IVF jauh lebih tinggi apabila pasien datang sebelum umur 35 tahun, ketika cadangan sel telur masih dalam kondisi baik.
Sebaliknya, kata Ivan, banyak pasangan baru mencari pertolongan setelah memasuki umur 40 tahun, sehingga peluang keberhasilan program ikut menurun.
"Setiap bayi yang lahir adalah pengingat bahwa harapan selalu layak untuk diperjuangkan. Kami ingin terus berjalan bersama lebih banyak keluarga Indonesia, memberikan pendampingan terbaik di setiap langkah menuju hadirnya buah hati," tambah Ivan.
Program Bayi Tabung Tak Harus ke Luar Negeri
Selain faktor usia, kendala finansial juga masih menjadi tantangan bagi sebagian pasangan untuk mengakses layanan bayi tabung. Oleh sebab itu, Morula IVF bekerja sama dengan Bank Mandiri menghadirkan berbagai skema pembiayaan, mulai dari fasilitas cicilan hingga program tabungan khusus untuk calon pasien.
"Kami ingin membantu pasien agar tidak harus menunda program hanya karena terkendala biaya," ujar Ivan.
Di sisi lain, Morula IVF juga akan membuka International Fertility Center pertama di Indonesia yang berlokasi di BSD. Fasilitas ini dirancang dengan standar internasional, baik dari sisi teknologi maupun penerapan protokol pelayanan.
"Kami akan mempunyai embryologist, nurses, dan dokter yang bukan hanya berasal dari Indonesia tapi juga dari luar negeri. Harapannya, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa layanan berstandar global juga tersedia di Indonesia," katanya.
Menurut Ivan, kehadiran pusat fertilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi anggapan bahwa pasangan harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan bayi tabung berkualitas.
Dia juga mengingatkan bahwa perempuan yang belum berencana memiliki anak dalam waktu dekat dapat mempertimbangkan teknologi egg freezing atau pembekuan sel telur untuk menjaga peluang kehamilan di masa mendatang.
Ivan, menegaskan, semakin cepat pasangan memeriksakan kesuburan, semakin besar pula peluang keberhasilan program bayi tabung. Meningkatnya keterlibatan laki-laki sejak awal pun menjadi pertanda bahwa kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi terus berkembang ke arah yang lebih baik.