Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melirik Kota Bogor sebagai daerah percontohan nasional dalam program penanggulangan Tuberkulosis (TBC). Usulan tersebut muncul setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berhasil membentuk Kelurahan Siaga TBC di seluruh 68 kelurahan.
Apresiasi itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, saat meluncurkan program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) SMART di Kota Bogor pada Selasa (28/7/2026).
Advertisement
Menurut Wamenkes Benny, keberhasilan seluruh kelurahan di Kota Bogor menjadi Kelurahan Siaga TBC merupakan pencapaian yang masih jarang ditemui di daerah lain.
"Saya mendengar seluruh kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga TBC. Ini luar biasa dan jarang ada. Karena itu, saya ingin Kota Bogor dapat menjadi percontohan nasional," ujar Benny dikutip dari kemkes.go.id pada Kamis (30/7/2026)
Jemput Bola untuk Temukan Kasus TBC
Wamenkes Benny menekankan bahwa pengendalian TBC tidak lagi cukup hanya mengandalkan pasien datang ke fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah bersama puskesmas, aparat kewilayahan, hingga kader kesehatan harus aktif melakukan penemuan kasus aktif dengan mendatangi masyarakat yang berisiko, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Melalui integrasi dengan program CKG SMART, masyarakat dapat menjalani pemeriksaan kesehatan lebih dekat dari tempat tinggal. Pemeriksaan meliputi skrining kesehatan, foto rontgen dada (X-ray), hingga pemeriksaan dahak bila ditemukan indikasi TBC.
Kemenkes juga akan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada warga berisiko tinggi yang belum mengalami TBC aktif. Langkah ini diharapkan dapat memutus rantai penularan sekaligus mencegah munculnya kasus baru.
"Selama ini kita fokus mengobati orang yang sudah sakit, tetapi kontak eratnya jarang diperiksa. Padahal, daripada dua atau tiga tahun lagi mereka menjadi pasien TBC, lebih baik kita cegah dari sekarang melalui TPT," katanya.
Kasus TBC Masih Jadi Tantangan
Meski mendapat apresiasi dari Kemenkes, Kota Bogor masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian TBC. Tingginya kepadatan penduduk dinilai berpotensi mempercepat penyebaran penyakit tersebut.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyambut baik kolaborasi dengan Kemenkes untuk memperkuat upaya eliminasi TBC di wilayahnya.
"Kehadiran program eliminasi TBC dari Kemenkes ini sangat berarti. Kami berharap kolaborasi ini manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Kota Bogor," ujar Dedie.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, mengungkapkan, pada 2025 Kota Bogor menempati peringkat kelima dengan beban TBC tertinggi di Jawa Barat. Tercatat terdapat 10.577 kasus dengan incidence rate 955 per 100.000 penduduk.
Menariknya, hanya 62 persen pasien TBC yang menjalani pengobatan merupakan warga Kota Bogor. Sebanyak 35 persen berasal dari Kabupaten Bogor, sedangkan 3 persen lainnya berasal dari luar wilayah.
"Kondisi ini menjadikan Kota Bogor sebagai rujukan layanan TBC, namun di sisi lain menambah tantangan dalam pemantauan pasien lintas wilayah," kata Erna.
Untuk mempercepat penemuan kasus, Pemkot Bogor menargetkan pelaksanaan pelacakan TBC terintegrasi mulai Agustus hingga November 2026. Program tersebut akan menyasar 23.200 orang di 232 titik yang tersebar di 68 kelurahan.
Hingga 26 Juli 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Bogor telah mencapai 71,9 persen dari target 90 persen. Wamenkes berharap strategi penemuan kasus aktif yang dipadukan dengan CKG SMART dapat mempercepat penurunan kasus TBC sekaligus mendukung target eliminasi TBC nasional pada 2028–2029.