Kisah Paskibraka Naila Sinapoy Jadi 6 Penerima Beasiswa Warwick

Dari Paskibraka hingga kuliah di Inggris, perjalanan Naila Sinapoy penuh inspirasi dan kerja keras.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 30 Juli 2026, 17:18 WIB
Naila Sinapoy membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih lewat persiapan yang matang. Berawal dari pengalaman sebagai Paskibraka Nasional, dia kini menjadi satu dari enam penerima beasiswa University of Warwick di dunia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Liputan6.com, Jakarta - Naila Aulita Alqubra Sinapoy, atau akrab disapa Naila Sinapoy, pernah mengungkapkan cita-citanya kepada Kesehatan Liputan6.com tiga tahun lalu. Saat itu, dia bermimpi menjadi diplomat atau bekerja di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Aku tuh pengin banget kuliah public health atau biomedicine di luar negeri," katanya kala itu. Mimpi Naila sederhana, yakni ingin memberikan kontribusi nyata bagi pengelolaan kesehatan di Indonesia.

Tiga tahun berselang, mimpi tersebut menjadi kenyataan. Berkat kerja keras dan persiapan yang matang, Paskibraka Nasional 2023 perwakilan Banten itu berhasil melanjutkan studi di Inggris.

"Yes, sesuai. Aku sekarang di London," kata Naila kepada jurnalis Kesehatan Liputan6.com pada Kamis, 30 Juli 2026.

Saat ini, Naila tercatat sebagai mahasiswi Health and Medical Sciences di University of Warwick melalui Warwick Undergraduate Global Excellence Scholarship.

"Beasiswa ini diberikan hanya kepada enam orang di seluruh dunia pada 2025. Aku salah satunya yang menerima full-fee awards," ujarnya.

Setahun setelah bertugas di Istana Negara sebagai Paskibraka Nasional 2023, Naila kembali mendapat amanah sebagai Pembawa Baki Duplikat Bendera Pusaka ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Pada 2025, dia juga dipercaya menjadi pembina calon Paskibraka Nasional.

Tahun ini, fokusnya sepenuhnya tertuju pada perkuliahan di University of Warwick yang merupakan universitas top 10 di Inggris.

"Kalau dipikir-pikir lagi, Paskibraka justru menjadi salah satu pengalaman yang membuka kesempatan buat aku mendapatkan beasiswa sekaligus mempersiapkan mental untuk merantau ke luar negeri," kata gadis yang fasih berbahasa Inggris, Jepang, Jerman, dan Korea tersebut.

Paskibraka Mengajarkan Mental Pantang Menyerah

Naila Sinapoy membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih lewat persiapan yang matang. Berawal dari pengalaman sebagai Paskibraka Nasional, dia kini menjadi satu dari enam penerima beasiswa University of Warwick di dunia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Menurut Naila, pengalaman di Paskibraka membentuk karakter yang sangat membantunya menempuh pendidikan di luar negeri.

Sejak mengikuti seleksi tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dia belajar bahwa keberhasilan hanya bisa diraih melalui persiapan yang matang.

"Sejak awal, Paskibraka mengajarkan saya untuk menjadi seseorang yang tidak mudah menyerah," ujarnya.

Dia mengenang masa seleksi yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Saat itu, Naila tetap menjalani latihan fisik seperti lari, push-up, sit-up, dan latihan lainnya di bawah terik matahari meski sedang berpuasa.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa kerja keras dan persiapan yang konsisten akan menghasilkan hasil terbaik. Prinsip yang sama kemudian dia terapkan saat mempersiapkan kuliah ke luar negeri.

Sejak kelas 10 SMA, Naila sudah mulai melakukan riset mengenai universitas yang memiliki program studi sesuai minatnya.

Dari sana, dia mempelajari berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari nilai akademik, kemampuan bahasa Inggris, aktivitas ekstrakurikuler, hingga personal statement.

Selama kurang lebih dua tahun, dia mempersiapkan seluruh persyaratan tersebut hingga akhirnya berhasil diterima di universitas impiannya.

"Karena itu, preparation sangat penting kalau ingin kuliah di luar negeri," tambahnya.

Rutinitas Karantina Membantu Beradaptasi di Inggris

Naila Sinapoy membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih lewat persiapan yang matang. Berawal dari pengalaman sebagai Paskibraka Nasional, dia kini menjadi satu dari enam penerima beasiswa University of Warwick di dunia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Selain membangun daya juang, masa karantina Paskibraka juga membentuk disiplin dan kemandirian Naila. Selama 40 hari, 78 anggota Paskibraka Nasional menjalani kehidupan tanpa akses media sosial maupun keluarga.

Mereka memiliki rutinitas yang teratur, mulai dari bangun pagi untuk beribadah dan berolahraga, menjalani latihan sepanjang hari, hingga mengikuti pembelajaran tentang kepaskibrakaan, wawasan kebangsaan, dan pengembangan diri pada malam hari.

Rutinitas tersebut menjadi bekal berharga ketika Naila mulai hidup mandiri di Inggris. Di sana, dia tetap menerapkan pola hidup serupa. Mulai dari ibadah pagi, olahraga, kuliah, hingga aktivitas sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan itu sangat membantu proses adaptasi di lingkungan baru.

Paskibraka juga mengajarkan disiplin dalam hal-hal sederhana, seperti bangun tepat waktu, menjaga kerapian kamar, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, serta menjaga penampilan.

Seluruh keterampilan tersebut kini menjadi bagian dari kehidupannya sebagai mahasiswa rantau. Ia harus mengurus semua kebutuhan secara mandiri, mulai dari berbelanja, memasak, mencuci pakaian, hingga mengatur tempat tinggal.

"Soft skill itu membentuk saya menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri, tidak bergantung pada orang lain, serta mampu menyelesaikan masalah sendiri terlebih dahulu," ujarnya.

Belajar Bergaul dengan Beragam Orang

Naila Sinapoy berfoto bersama Vice-Chancellor dan Chancellor University of Warwick usai menerima sertifikat Warwick Undergraduate Global Excellence Scholarship, beasiswa yang hanya diberikan kepada enam mahasiswa dunia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Pengalaman di Paskibraka juga mengasah kemampuan sosial Naila. Sebagai anggota Paskibraka Nasional, dia hidup bersama pemuda-pemudi dari 38 provinsi dengan latar belakang, karakter, dan kebiasaan yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, Naila belajar beradaptasi dengan berbagai tipe kepribadian dan cara berkomunikasi. Kemampuan itu sangat membantunya ketika memulai kehidupan sebagai mahasiswa internasional.

"Saya belajar menjadi seseorang yang bisa berteman dengan siapa saja atau social butterfly," tambahnya.

Berkat kemampuan tersebut, Naila kini memiliki banyak teman dari berbagai negara, usia, dan jenjang pendidikan. Menurutnya, jaringan pertemanan yang luas sangat membantunya selama menjalani kehidupan di luar negeri karena selalu ada orang yang bisa saling mendukung ketika menghadapi kesulitan.

Dari seluruh pengalaman tersebut, Naila menyimpulkan ada tiga kualitas utama yang dia peroleh dari Paskibraka, yaitu resilience, independence, dan social skills.

Cerita Lolos ke University of Warwick

Naila Sinapoy membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih lewat persiapan yang matang. Berawal dari pengalaman sebagai Paskibraka Nasional, dia kini menjadi satu dari enam penerima beasiswa University of Warwick di dunia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Persiapan kuliah ke luar negeri sudah dimulai sejak kelas 10 SMA. Saat itu, Naila mulai mencari berbagai pilihan universitas yang realistis untuk melanjutkan studi S-1.

Ketika duduk di kelas 11, dia mengikuti kurikulum International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP) sambil memperdalam riset mengenai universitas-universitas terbaik yang memiliki program studi public health.

Selama masa sekolah, dia tidak hanya fokus pada akademik, tapi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti sepak bola, bulu tangkis, dan kegiatan sosial, termasuk penyelenggaraan vaksinasi gratis.

Menurut Naila, pengalaman di luar akademik menjadi nilai tambah karena banyak universitas luar negeri mencari mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan.

Menjelang akhir kelas 11 hingga awal kelas 12, ia mulai menyusun personal statement sekaligus menentukan universitas tujuan.

Ada empat pertimbangan utama yang ia gunakan dalam memilih kampus, yaitu:

  • Nilai minimum yang disyaratkan.
  • Peringkat universitas.
  • Biaya pendidikan.
  • Ketersediaan beasiswa.

Setelah mengirimkan pendaftaran ke sejumlah perguruan tinggi luar negeri, Naila mulai mencari berbagai beasiswa yang dapat membiayai studinya.

Dari hasil riset tersebut, dia menemukan Warwick Undergraduate Global Excellence Scholarship, beasiswa bagi mahasiswa internasional jenjang sarjana di University of Warwick.

Setelah mempelajari seluruh persyaratan, ia memutuskan untuk mendaftar.

"Dengan rahmat Allah SWT, saya menjadi salah satu dari enam penerima beasiswa fully funded tersebut," pungkasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya