Liputan6.com, Jakarta - Hari Hepatitis Sedunia yang diperingati setiap 28 Juli menjadi pengingat bahwa hepatitis B dan hepatitis C masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Kedua penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah terjadi kerusakan hati yang cukup berat.
Padahal, kerusakan hati akibat hepatitis dapat berkembang menjadi fibrosis, sirosis, hingga kanker hati jika tidak terdeteksi sejak dini. Karena itu, deteksi dini melalui skrining menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat.
Advertisement
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hepatitis B dan hepatitis C menyebabkan penyakit kronis pada ratusan juta orang di dunia dan menjadi penyebab utama sirosis hati, kanker hati, serta kematian akibat hepatitis virus.
Melalui Global Health Sector Strategies on HIV, Viral Hepatitis and Sexually Transmitted Infections 2022–2030, WHO menargetkan eliminasi hepatitis virus sebagai masalah kesehatan masyarakat pada 2030. Target tersebut ditempuh melalui peningkatan cakupan vaksinasi hepatitis B, perluasan akses skrining dan pengobatan, serta edukasi masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini.
Mendukung upaya tersebut, pelaksanaan skrining hepatitis B dan hepatitis C menjadi salah satu agenda dalam Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah PPHI–PGI–PEGI 2026 di Yogyakarta yang digelar pada 25–26 Juli 2026, menjelang Hari Hepatitis Sedunia.
Dalam kegiatan tersebut, tenaga medis memanfaatkan teknologi ultrasonografi (USG) untuk mengevaluasi kondisi hati peserta skrining secara cepat, akurat, dan non-invasif. Pemeriksaan ini membantu dokter mengetahui perubahan pada jaringan hati tanpa perlu menjalani prosedur yang menimbulkan rasa sakit.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah fitur Shear Wave Measurement (SWM). Fitur ini memungkinkan dokter mengukur tingkat kekakuan jaringan hati (liver stiffness) secara kuantitatif sehingga fibrosis akibat hepatitis B maupun hepatitis C dapat dideteksi lebih dini.
Selain itu, sistem USG juga menghasilkan pencitraan berkualitas tinggi yang membantu visualisasi struktur hati secara lebih jelas untuk mendukung proses diagnosis dan pemantauan pasien.
Teknologi USG untuk Hepatitis
Presiden Direktur FUJIFILM Indonesia, Masato Yamamoto, menegaskan bahwa deteksi dini memegang peran penting dalam meningkatkan peluang penanganan penyakit hati.
"Melalui dukungan pada program skrining hepatitis B & C dalam rangka Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah PPHI–PGI–PEGI 2026 ini, kami berharap dapat turut meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini sebagai langkah pencegahan, sekaligus membantu memperluas akses terhadap pemeriksaan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat," kata Masato Yamamoto.
Selain mendukung skrining, FUJIFILM Indonesia juga menghadirkan HPB (Hepato–Pancreato–Biliary) Solution, yakni solusi terintegrasi yang menggabungkan teknologi USG, endoskopi, dan mobile C-arm. Ketiga teknologi tersebut mendukung pelayanan pasien mulai dari skrining, diagnosis, tindakan intervensi, hingga evaluasi dan tindak lanjut penyakit hati, pankreas, dan bilier, termasuk hepatitis B dan hepatitis C.
Direktur FUJIFILM Indonesia, Handra Effendi, mengatakan kebutuhan akan solusi diagnostik yang terintegrasi terus meningkat seiring berkembangnya layanan kesehatan di Indonesia.
"Kami ingin menghadirkan solusi yang membantu tenaga medis bekerja lebih cepat, akurat, dan efisien. Melalui HPB Solution, kami berkomitmen mendukung penanganan penyakit hati secara lebih komprehensif sehingga fasilitas kesehatan dapat memberikan layanan yang semakin optimal bagi masyarakat," ujar Handra.
Momentum Hari Hepatitis Sedunia menjadi pengingat bahwa hepatitis B dan hepatitis C dapat dikendalikan melalui vaksinasi, skrining, dan deteksi dini. Dengan dukungan teknologi diagnostik yang semakin canggih, peluang menemukan kerusakan hati lebih awal pun semakin besar sehingga pasien dapat memperoleh penanganan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.