Liputan6.com, Jakarta - Atap seng yang berkarat tidak hanya dikaitkan dengan risiko kanker paru. Debu karat yang terlepas dan terhirup dalam jangka panjang juga dapat memicu berbagai penyakit paru, mulai dari iritasi saluran napas, bronkitis kronis, asma, hingga fibrosis paru.
Profesor sekaligus Guru Besar Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, menjelaskan, seng yang masih dalam kondisi utuh tidak akan mudah terlepas sehingga tidak dapat terhirup. Risiko baru muncul ketika atap seng mulai berkarat.
Advertisement
"Kalau komponen dari seng itu tidak menimbulkan karat, dia tidak lepas, tidak bisa terhirup karena masih utuh. Terus kalau dia sudah dipakai lama, nanti berkarat, kemudian bisa lepas dan terhirup. Komponen-komponen itu bisa menimbulkan berbagai keluhan penyakit paru," kata Agus kepada Kesehatan Liputan6.com melalui sambungan telepon pada Kamis (30/7/2026)
Berawal dari Iritasi Saluran Napas
Menurut Agus, paparan debu karat seng pertama-tama dapat menyebabkan iritasi pada saluran napas. Kondisi ini dapat memicu keluhan seperti sakit tenggorokan, batuk berkepanjangan, hingga dahak yang terus-menerus muncul.
"Kalau terhirup, dia bisa menimbulkan iritasi saluran napas. Kalau iritasi itu terjadi, akan menimbulkan sakit tenggorokan, batuk-batuk, berdahak. Jadi, kalau orang yang tinggal di situ sering menghirup komponen debu-debu karatnya, sering akan terjadi keluhan batuk-batuk kronis seperti itu," ujarnya.
Apabila iritasi berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi bronkitis kronis akibat peradangan saluran napas yang berlangsung dalam jangka panjang.
"Bronkitis kronis akan muncul karena terjadi iritasi jangka panjang pada saluran napas," tambahnya.
Meningkatkan Risiko Asma hingga Fibrosis Paru
Selain bronkitis kronis, iritasi yang terjadi secara terus-menerus juga dapat menyebabkan hipersensitivitas pada saluran napas sehingga meningkatkan risiko asma.
"Terjadi iritasi jangka panjang yang menyebabkan hipersensitivitas pada saluran napas sehingga akan meningkatkan risiko asma," kata Agus.
Dia juga mengingatkan bahwa debu karat pada atap seng tidak hanya mengandung seng. Karat dapat berasal dari bagian logam lain, seperti paku berbahan besi (Fe), yang ikut mengalami korosi.
"Debu karatnya itu bukan hanya mengandung seng, tetapi juga mengandung besi atau Fe. Kalau terhirup bertahun-tahun juga bisa menyebabkan fibrosis paru yang namanya siderosis," ujarnya.
Prabowo Singgung Bahaya Atap Seng
Sebelumnya, Agus menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut penggunaan seng sebagai bahan atap rumah dapat meningkatkan risiko penyakit paru, termasuk kanker paru.
Menurut Agus, secara teori komponen tertentu pada seng memang berpotensi meningkatkan risiko kanker paru, tapi risikonya sangat kecil.
"Intinya bisa, tapi risikonya sangat kecil. Karena kalau dilihat dari komponen seng, bahan-bahan dari seng yang memberikan risiko terjadinya kanker itu dari komponen krom-nya," katanya.
Agus menjelaskan bahwa krom merupakan bahan pelapis yang digunakan pada sebagian produk seng. Beberapa jenis krom diketahui bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker. Jika seng mengalami korosi, komponen tersebut berpotensi terlepas dan terhirup.
"Krom adalah pelapisnya. Krom ada yang bersifat karsinogen atau penyebab terjadinya kanker. Jadi, kalau itu terjadi karat, krom-nya mungkin terhirup, bisa jadi," ujarnya.
Belum Ada Penelitian di Indonesia
Meski demikian, Agus menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian di Indonesia yang membuktikan adanya hubungan langsung antara penggunaan atap seng dengan meningkatnya risiko kanker paru.
"Tapi, kalau bicara secara teori, komponen dari seng itu ada yang menyebabkan risiko terjadinya kanker, yaitu komponen krom sebagai pelapisnya," katanya.
Agus menekankan bahwa unsur seng atau zinc itu sendiri bukan merupakan zat yang bersifat karsinogenik. Potensi risiko kanker berasal dari jenis krom yang digunakan sebagai pelapis, bukan dari sengnya.
"Dari sengnya sendiri atau zinc sendiri itu tidak karsinogenik. Zinc itu tidak karsinogenik. Yang punya potensi karsinogenik adalah komponen pelapisnya, yaitu krom," ujarnya.
Dia, menambahkan, saat ini sebagian industri telah beralih menggunakan jenis krom yang tidak bersifat karsinogenik. Karena itu, potensi risiko sangat bergantung pada jenis pelapis yang digunakan dalam proses produksi seng.
"Memang ada krom yang karsinogenik dan ada yang tidak karsinogenik. Jadi sangat tergantung dari komponen sengnya. Kalau menggunakan pelapis yang karsinogenik, risiko itu bisa terjadi," pungkas Agus.