Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang menganggap merokok sebagai cara paling mudah dan murah untuk meredakan stres. Faktanya rasa tenang yang muncul usai merokok hanya bersifat sementara yang merupakan efek nikotin seperti disampaikan praktisi kesehatan masyarakat dokter Ngabila Salama.
Nikotin dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa nyaman. Rfek tersebut hanya berlangsung singkat dan justru membentuk siklus kecanduan.
Advertisement
"Saat kadar nikotin menurun, muncul gejala putus nikotin seperti gelisah, cemas, dan sulit berkonsentrasi yang sering disalahartikan sebagai stres. Setelah merokok lagi, gejala tersebut mereda sehingga seolah-olah rokok menghilangkan stres," kata Ngabila lewat pesan tertulis.
Ngabila menekankan merokok tidak mengatasi stres tapi berbagai penelitian menunjukkan perokok justru memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibanding bukan perokok.
Berhenti merokok terbukti memperbaiki kesehatan mental dalam jangka panjang. Setelah terbebas dari ketergantungan nikotin, gejala putus nikotin akan berkurang sehingga kondisi psikologis dapat menjadi lebih stabil.
Mengatasi Stres Tanpa Rokok
Ngabila mengingatkan bahwa ada berbagai cara yang lebih sehat dan terbukti bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.
Ia menyarankan masyarakat untuk rutin berolahraga, mencukupi waktu tidur, berbicara dengan keluarga atau teman saat menghadapi masalah, serta beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
Apabila stres sudah berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, Ngabila menganjurkan masyarakat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.
"Segera mencari bantuan tenaga kesehatan bila stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari," tutur Ngabila.