Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mengira program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) identik dengan kehamilan kembar. Padahal, tidak selalu seperti itu.
Dokter spesialis obsteteri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi dan reproduksi, Niken Pudji Pangastuti, menjelaskan bahwa pada program IVF pasien akan menjalani stimulasi ovarium menggunakan obat-obatan agar beberapa sel telur dapat matang sekaligus. Berbeda dengan siklus alami yang umumnya hanya menghasilkan satu sel telur matang setiap bulan, stimulasi memungkinkan diperolehnya sekitar 15 hingga 20 sel telur, tergantung respons masing-masing pasien.
Advertisement
"Kalau tidak diapa-apakan, kita hanya menghasilkan satu telur matang setiap bulan. Tapi jika menggunakan obat, kita bisa mendapatkan sekitar 15-20 telur, tergantung respons tiap individu," ujar Niken dalam temu media dengan Brawijaya Hospital di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Sel telur tersebut kemudian dibuahi di laboratorium hingga berkembang menjadi embrio. Setelah itu, dokter akan memilih embrio dengan kualitas terbaik untuk dipindahkan ke dalam rahim.
Menurut Niken, dalam satu siklus IVF umumnya hanya satu hingga maksimal dua embrio yang dipindahkan.
"Nanti saat kita memasukkan embrio, kita bisa memasukkan satu, maksimal dua. Yang paling baik," katanya.
Kehamilan
Niken menjelaskan, apabila satu embrio dipindahkan, umumnya kehamilan akan menghasilkan satu bayi. Namun, dalam kondisi tertentu embrio tersebut dapat membelah menjadi dua sehingga menghasilkan bayi kembar identik.
"Kalau misalkan masuknya satu, peluangnya satu, atau yang maksimal dua, kalau dia membelah jadi dua," jelasnya.
Sementara itu, jika dua embrio dipindahkan, hasil akhirnya juga tidak selalu berupa kehamilan kembar. Salah satu embrio bisa saja gagal menempel pada dinding rahim sehingga hanya berkembang menjadi satu janin. Sebaliknya, kedua embrio dapat sama-sama berhasil menempel dan berkembang menjadi bayi kembar.
"Bisa jadi hanya satu karena yang satunya tidak nempel, bisa jadi dua karena dua-duanya berhasil nempel," ujarnya.
Dalam kasus yang lebih jarang, salah satu dari dua embrio tersebut dapat kembali membelah setelah berhasil menempel sehingga menghasilkan kehamilan tiga bayi.
Meski demikian, keputusan mengenai jumlah embrio yang dipindahkan selalu mempertimbangkan kondisi medis pasien, kualitas embrio, serta peluang keberhasilan kehamilan dengan tetap mengutamakan keselamatan ibu dan janin.
Niken menambahkan, tingkat keberhasilan program bayi tabung di Benih IVF Center Brawijaya Hospital Antasari saat ini berada di kisaran 47 hingga 48 persen. Angka tersebut berada di atas standar efektivitas minimum klinik IVF yang umumnya sekitar 30 persen.