Dokter: Rajin Olahraga Bukan Jaminan Jadi Si Paling Sehat

Rajin olahraga tak selalu berarti bebas penyakit. Dokter mengingatkan pentingnya mengenali batas tubuh.

Diterbitkan 15 September 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bisa ber-olahraga dengan performa tinggi bukan berarti tubuh otomatis terbebas dari risiko penyakit. Justru, rasa terlalu percaya diri karena merasa bugar dapat membuat seseorang mengabaikan kondisi kesehatan yang sebenarnya perlu diperhatikan.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, SpPD, KGH, FINASIM, mengingatkan masyarakat yang rutin berolahraga agar tidak menyamakan kebugaran fisik dengan kondisi tubuh yang sepenuhnya sehat.

"Sehat dan bugar itu ada dua hal yang berbeda," kata Decsa dalam acara 'World Heart Day 2026: Keep On with Healthy Habits, Live On with Purpose' oleh OMRON Indonesia di Jakarta pada Jumat, 11 September 2026.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa kemampuan fisik saat berolahraga tidak selalu menggambarkan kondisi organ tubuh secara keseluruhan. Oleh sebab itu, orang yang aktif berolahraga tetap perlu mengetahui berbagai faktor risiko kesehatan, seperti tekanan darah, riwayat keluarga, pola makan, kualitas tidur, dan tingkat stres.

"Sering kali kita yang bugar ini, kalau sudah bisa mencapai sesuatu di dunia olahraga, kita overconfident. Jadi merasa si paling sehat, si paling kuat," ujarnya.

Jangan Paksakan Kemampuan Tubuh

Keinginan meningkatkan kemampuan dan mencapai performa yang lebih baik saat berolahraga juga perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap batas kemampuan tubuh.

Decsa mengingatkan masyarakat yang ingin meningkatkan intensitas olahraga untuk terlebih dahulu mengetahui kemampuan tubuh dan membangun fondasi kebugaran secara bertahap.

Menurut dokter lulusan Universitas Airlangga itu, pencapaian orang lain juga tidak seharusnya dijadikan patokan untuk memaksakan kemampuan diri. Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda sehingga batas kemampuannya pun tidak sama.

"Know your limit. Jadi kita harus tahu limit, batasan kita ini sampai mana," katanya.

Jangan Hanya Mengejar Performa

Decsa juga menyarankan pegiat olahraga untuk memperhatikan kondisi tubuh selama beraktivitas, termasuk detak jantung, bukan hanya mengejar pace atau capaian performa.

Menurut dia, kebiasaan membandingkan performa melalui aplikasi olahraga dapat mendorong seseorang memaksakan diri tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh.

Padahal, olahraga seharusnya dilakukan sesuai kemampuan masing-masing. Memahami respons tubuh selama beraktivitas menjadi bagian penting agar olahraga tetap memberikan manfaat tanpa dilakukan secara berlebihan.

Tahu Kapan Harus Berhenti

Decsa menegaskan olahraga tetap penting untuk menjaga kesehatan. Aktivitas fisik dapat membantu menjaga kebugaran jantung dan pembuluh darah.

Namun, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengenali batas tubuh. Mengetahui kapan harus mengurangi intensitas atau berhenti berolahraga juga merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan.

"Bukan berarti tidak boleh. Wajib harus olahraga. Tapi kita harus tahu ‘know your limit’, tahu batasan. Tahu juga kemampuan, kapan harus berhenti dan bilang setop," katanya.