Liputan6.com, Jakarta - Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qothi, mengingatkan orang tua agar tidak langsung merasa lega ketika demam anak mulai turun. Pada kasus DBD anak, fase tersebut justru bisa menjadi periode kritis karena tanda bahaya sering kali muncul setelah demam mereda.
Menurut Ikhsan, banyak orang tua keliru menganggap anak sudah melewati masa berbahaya ketika suhu tubuh mulai normal. Padahal, pada sebagian pasien, fase setelah demam turun justru menjadi waktu munculnya gejala yang menandakan kondisi semakin serius.
Advertisement
"Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, terlihat sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan," ujarnya dikutip dari Antara pada Minggu (2/8/2026)
Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tetap memantau kondisi anak meski demam sudah mereda. Jangan menunda pemeriksaan apabila muncul tanda bahaya DBD karena penanganan yang cepat dapat mencegah komplikasi.
Selain mengenali fase kritis penyakit, masyarakat juga perlu memahami bahwa demam berdarah dengue (DBD) bukan penyakit musiman.
Menurut Ikhsan, risiko penularannya tetap ada sepanjang tahun sehingga kewaspadaan harus terus dijaga, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah.
"Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin," katanya.
Peringatan tersebut menjadi semakin penting menjelang dimulainya tahun ajaran baru. Anak-anak yang kembali beraktivitas di sekolah tetap berisiko terpapar gigitan nyamuk pembawa virus dengue apabila upaya pencegahan tidak dilakukan secara konsisten.
Data Kementerian Kesehatan periode 2018 s.d 2025 menunjukkan kelompok umur lima hingga 14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak umur nol hingga 14 tahun, dengan 41 persen berasal dari kelompok umur lima hingga 14 tahun.
Pernah Terkena DBD Bukan Berarti Kebal
Ikhsan menjelaskan bahwa virus dengue memiliki empat serotipe, yakni DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Seseorang yang pernah terinfeksi satu serotipe masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe lainnya.
Infeksi berikutnya bahkan berpotensi meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Oleh karena itu, upaya pencegahan tetap penting dilakukan meski seseorang pernah mengalami DBD.
Untuk mengurangi risiko penularan, masyarakat dianjurkan menerapkan 3M Plus, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang dapat menampung air, serta menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk.
Selain itu, vaksin dengue kini telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak serta rekomendasi imunisasi dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).
"Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak dan anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan vaksinasi dengue," kata Ikhsan.
Dengan mengenali tanda bahaya sejak dini dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, risiko DBD pada anak dapat ditekan. Yang terpenting, jangan terlena saat demam anak mulai turun karena fase tersebut belum tentu menandakan kondisi benar-benar membaik.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan, perlindungan anak dari DBD memerlukan kolaborasi semua pihak.
Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari keluarga melalui penerapan 3M Plus dan didukung sekolah, pemerintah, serta tenaga kesehatan untuk mewujudkan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue 2030.