Liputan6.com, Jakarta - Makanan tradisional sering kali dipandang sebagai hidangan rumahan biasa. Padahal, banyak kuliner khas dari berbagai negara telah lama menerapkan prinsip gizi seimbang yang kini menjadi dasar rekomendasi nutrisi modern.
Hal tersebut diungkapkan Vice President of Health and Wellness Herbalife, Dr. Luigi Gratton. Menurutnya, anggapan bahwa pola makan sehat identik dengan makanan modern atau produk yang dirancang di laboratorium tidak sepenuhnya benar.
Advertisement
"Selama puluhan tahun berkecimpung di bidang nutrisi olahraga, saya justru belajar bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Makanan yang dahulu dimasak oleh nenek kita, di dapurnya, dengan resep dan bahan-bahan yang diwariskan secara turun-temurun sesungguhnya jauh lebih dekat dengan prinsip nutrisi para atlet elite daripada yang kita bayangkan," ujar Gratton.
Dia, menjelaskan, kuliner tradisional di berbagai belahan dunia umumnya mengombinasikan karbohidrat, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah dalam satu sajian. Susunan tersebut sejalan dengan konsep Performance Plate, yaitu panduan penyusunan menu yang menekankan keseimbangan zat gizi sesuai kebutuhan tubuh.
"Makanan tradisional dari berbagai belahan dunia dibangun di atas prinsip yang sama dengan pola makan para atlet profesional saat ini, yaitu keseimbangan makronutrien, penggunaan bahan pangan musiman, protein rendah lemak, biji-bijian utuh, lemak sehat, serta pemahaman bahwa makanan bukan hanya berfungsi sebagai sumber energi tapi juga sebagai bagian dari kebersamaan," katanya.
Makanan Tradisional Sudah Lama Terapkan Gizi Seimbang
Di Asia, bibimbap dari Korea Selatan menjadi contoh hidangan bergizi seimbang karena memadukan nasi, aneka sayuran, daging sapi tanpa lemak, dan telur dalam satu mangkuk. Sementara itu, sup miso khas Jepang mengandung elektrolit sekaligus makanan fermentasi yang baik untuk kesehatan saluran cerna.
Rempah seperti kunyit yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara juga memiliki manfaat kesehatan. Sejumlah penelitian menunjukkan kunyit bersifat antiinflamasi sehingga dapat membantu mempercepat pemulihan sekaligus mengurangi nyeri otot setelah beraktivitas.
Prinsip serupa juga ditemukan di Amerika Tengah dan Meksiko. Hidangan seperti huevos rancheros memadukan nasi, kacang-kacangan, dan telur sehingga menghasilkan kombinasi karbohidrat dan protein yang saling melengkapi.
Di Amerika Selatan, feijoada khas Brasil menyajikan perpaduan kacang-kacangan dan daging sebagai sumber protein serta karbohidrat. Sementara itu, ceviche dari Peru menawarkan pilihan protein rendah lemak dari ikan segar.
Pola makan Mediterania juga dikenal sebagai salah satu pola makan paling sehat di dunia. Hidangan seperti paella menggabungkan nasi, makanan laut atau ayam, serta sayuran, sedangkan salad Yunani kaya akan lemak tak jenuh dari minyak zaitun dan buah zaitun yang bermanfaat bagi kesehatan.
Di Timur Tengah, hummus, falafel, tabbouleh, dan kurma menjadi contoh makanan yang kaya protein nabati, vitamin, mineral, serta karbohidrat alami. Sementara di Afrika, jollof rice dan shakshuka menunjukkan bahwa makanan sehari-hari pun dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, dan mikronutrien dalam satu piring.
Tak Perlu Meninggalkan Makanan Tradisional
Gratton menekankan bahwa masyarakat tidak perlu meninggalkan makanan tradisional untuk menerapkan pola makan sehat. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan gizi melalui konsumsi makanan utuh, memperbanyak sayur dan buah, memenuhi kebutuhan cairan, serta menyesuaikan porsi makan dengan tingkat aktivitas.
"Ketika Anda menyaksikan para pemain terbaik dunia berlaga musim panas ini, ingatlah bahwa makanan yang mereka konsumsi untuk mendukung performa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hidangan yang ada di dapur kita sendiri," katanya.
"Ternyata, nasihat nenek kita memang benar. Fondasinya sudah ada sejak dulu. Dunia olahraga hanya memberikan nama baru bagi prinsip tersebut," pungkasnya.