Tak Semua Operasi Harus Bius Total, Ini yang Menentukan Jenis Anestesi

Bius total bukan satu-satunya pilihan saat operasi. Simak cara dokter menentukan jenis anestesi.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 07 Agustus 2026, 09:00 WIB
Tak semua pasien yang menjalani operasi memerlukan bius total. Dokter akan menentukan jenis anestesi berdasarkan jenis operasi, kondisi kesehatan, serta risiko yang dimiliki masing-masing pasien. (dok. Piron Guillaume/Unsplash.com)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mengira setiap operasi harus dilakukan dengan bius total atau anestesi umum. Padahal, jenis anestesi yang digunakan bergantung pada jenis operasi, kondisi kesehatan pasien, hingga tingkat risiko yang dimiliki.

Selain anestesi umum (general anesthesia), terdapat anestesi regional (regional anesthesia), seperti anestesi spinal dan blok saraf perifer. Metode ini bekerja dengan membuat bagian tubuh tertentu mati rasa sehingga pasien tidak merasakan nyeri selama operasi.

Kepala Departemen Anestesiologi, Perawatan Intensif, dan Pengobatan Nyeri Tan Tock Seng Hospital (TTSH), Dr. Fong Wee Kim, mengatakan anestesi regional umumnya dipilih untuk operasi yang hanya melibatkan bagian tubuh tertentu, seperti lengan, tungkai, atau bagian bawah tubuh.

"Anestesi regional juga dapat menjadi pilihan yang baik bagi pasien yang memiliki risiko lebih tinggi jika menjalani anestesi umum akibat kondisi medis tertentu," ujar Kim dikutip dari Channel News Asia pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Sementara itu, operasi yang lebih kompleks, seperti operasi besar pada rongga perut atau dada, umumnya memerlukan anestesi umum.

"Prosedur yang lebih kompleks, seperti operasi besar pada perut atau dada, sering kali memerlukan anestesi umum," kata Konsultan Senior Departemen Anestesiologi, Perawatan Intensif, dan Pengobatan Nyeri TTSH, Dr. Wong Wan Yi.

Apa yang Menentukan Jenis Anestesi?

Pemilihan jenis anestesi tidak dilakukan secara sembarangan. Dokter anestesi akan mengevaluasi berbagai faktor untuk menentukan metode yang paling aman dan sesuai bagi setiap pasien.

Menurut Konsultan Departemen Anestesi dan Perawatan Intensif Bedah Changi General Hospital, Dr. Joanne Yeo, pertimbangan tersebut meliputi kondisi kesehatan pasien, riwayat reaksi terhadap obat, pengalaman menjalani operasi sebelumnya, serta risiko dari masing-masing jenis anestesi.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, dokter dapat menentukan metode anestesi yang paling tepat agar operasi berjalan aman dan nyaman.

Apa yang Terjadi Saat Bius Total?

Pada anestesi umum, dokter biasanya memberikan obat bius melalui infus. Salah satu obat yang paling sering digunakan adalah propofol.

Yeo menjelaskan bahwa obat anestesi bekerja dengan mengubah sementara aktivitas listrik di otak sehingga komunikasi antarbagian otak berkurang. Akibatnya, pasien kehilangan kesadaran, tidak menyadari lingkungan sekitar, dan tidak merasakan nyeri selama operasi.

Selain propofol, pasien juga diberikan obat pereda nyeri yang kuat, seperti fentanyl atau morfin. Setelah pasien benar-benar tertidur, dokter akan memasang selang napas melalui mulut menuju saluran pernapasan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka, menyalurkan oksigen, sekaligus melindungi paru-paru selama operasi berlangsung.

Tugas Dokter Anestesi Selama Operasi

Peran dokter anestesi tidak hanya membuat pasien tertidur. Selama operasi berlangsung, mereka juga bertugas memastikan pasien tetap aman dengan memantau tekanan darah, denyut jantung, kadar oksigen, serta respons tubuh terhadap obat bius.

Yeo mengatakan bahwa dosis anestesi harus dihitung secara cermat. Dosis yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan dan sirkulasi darah, sedangkan dosis yang terlalu rendah berisiko membuat pasien merasakan nyeri atau kembali sadar saat operasi.

Konsultan Departemen Anestesiologi Singapore General Hospital, Dr. He Yingke, menambahkan bahwa anestesi umum dapat menyebabkan tekanan darah lebih mudah berfluktuasi karena pengaruh obat terhadap jantung dan kondisi pasien yang berada dalam tidur sangat dalam.

"Karena efek obat pada jantung dan pasien berada dalam kondisi tidur yang sangat dalam, tekanan darah cenderung lebih mudah berubah. Risiko ini lebih besar pada pasien lanjut usia atau mereka yang memiliki penyakit jantung dan paru-paru yang serius," kata Yingke.

Setelah operasi selesai, pemberian obat anestesi akan dihentikan. Dokter anestesi kemudian memastikan pasien mulai sadar, dapat bernapas dengan baik, nyeri terkendali, serta tekanan darah dan kadar oksigen tetap stabil sebelum dipindahkan ke ruang pemulihan.

Dengan kata lain, tidak semua operasi harus dilakukan dengan bius total. Jenis anestesi akan dipilih berdasarkan kebutuhan operasi dan kondisi masing-masing pasien agar prosedur berjalan seaman mungkin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya