Liputan6.com, Jakarta - Kekurangan zat besi pada anak tidak hanya meningkatkan risiko anemia. Kondisi ini juga dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf, daya pikir, fokus, dan memori belajar anak.
Karena itu, kecukupan zat besi perlu menjadi perhatian orang tua, terutama pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak.
Advertisement
Dokter Anak Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengatakan zat besi merupakan salah satu zat gizi mikro yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak.
"Pada anak-anak, zat besi merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk proses tumbuh kembangnya. Fungsi zat besi penting dalam perkembangan sistem saraf. Sehingga, kekurangan zat besi akan sangat memengaruhi daya pikir yang dapat berdampak pada fokus dan memori belajar," ujar Rini dalam Pediatric Science & Health Summit 2026.
Menurut Rini, kekurangan zat besi menjadi perhatian karena dampaknya dapat berkaitan dengan kemampuan kognitif anak. Kondisi tersebut terutama perlu diwaspadai ketika berlangsung dalam waktu lama dan tidak segera ditangani.
Asupan Zat Besi Anak Indonesia Masih Kurang
Masalah kekurangan zat besi juga masih ditemukan pada anak-anak di Indonesia. Penelitian South East Asian Nutrition Survey II (SEANUTS II) Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar anak Indonesia belum memenuhi kebutuhan zat besi sesuai rekomendasi.
Rini menyebut rata-rata asupan zat besi anak Indonesia hanya mencapai 65,8 persen dari Angka Kebutuhan Gizi (AKG).
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kebutuhan zat besi anak dan asupan yang diperoleh sehari-hari.
Menurut Rini, kekurangan zat besi juga kerap tidak disadari orang tua. Pasalnya, kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Padahal, kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi dapat berdampak pada fungsi kognitif, energi, serta daya tahan tubuh anak.
Pentingnya Deteksi Dini Kekurangan Zat Besi
Rini menekankan pentingnya mendeteksi kekurangan zat besi sebelum kondisinya menjadi lebih berat. Salah satunya melalui pemantauan hemoglobin dan evaluasi asupan zat besi sesuai kebutuhan anak.
"Waktu yang tepat untuk bertindak adalah sebelum kondisi menjadi lebih berat. Skrining dini, termasuk pendekatan noninvasif seperti pemantauan hemoglobin atau evaluasi asupan zat besi, dapat membantu mengidentifikasi risiko lebih awal," kata Rini.
Selain deteksi dini, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang dan sumber zat besi yang cukup.
Sumber zat besi dapat diperoleh dari berbagai makanan, terutama pangan hewani seperti daging, hati, ikan, dan telur. Asupan makanan yang beragam juga membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara keseluruhan.
Kecukupan zat besi bukan hanya penting untuk mencegah anemia. Nutrisi ini juga berperan dalam mendukung perkembangan sistem saraf dan fungsi kognitif.
Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak menganggap kekurangan zat besi sebagai masalah sepele. Memastikan kebutuhan zat besi terpenuhi sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak secara optimal.