Kemenkes Tegaskan AI Hanya Alat Bantu, Bukan untuk Menggantikan Dokter

AI makin banyak digunakan di rumah sakit. Kemenkes menegaskan teknologi ini bukan untuk menggantikan dokter.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 19 Agustus 2026, 17:40 WIB
Kepala BKPK Kemenkes Prof. Asnawi Abdullah menegaskan AI merupakan alat bantu bagi tenaga kesehatan. Keputusan klinis tetap berada di tangan dokter dengan keselamatan pasien sebagai prioritas. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Penerapan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor kesehatan dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan kapabilitas layanan rumah sakit serta tenaga medis. Namun, SDM kesehatan tetap memegang peran utama dalam setiap pengambilan keputusan medis.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam ekosistem kesehatan nasional harus berpedoman pada prinsip safety first, dengan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes RI, Prof. Asnawi Abdullah, SKM, MHSM, M.Sc.HPPF, DLSHTM, Ph.D., mengatakan AI hadir untuk memperkuat fungsi tenaga kesehatan, termasuk membantu menentukan prioritas penanganan pasien atau penyakit dengan lebih cepat.

"AI kita harapkan juga dapat membantu tenaga kesehatan dalam menentukan prioritas atau penyakit dengan cepat," ujar Asnawi dalam acara Media Briefing Philips Future Health Index 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Asnawi menekankan bahwa AI merupakan alat bantu, bukan pengganti manusia. Dalam dunia medis, keputusan klinis tetap berada sepenuhnya di tangan dokter atau tenaga kesehatan.

"AI adalah alat bantu dan bukan menggantikan manusia. Keputusan klinis tetap berada sepenuhnya di tangan dokter atau di tangan tenaga kesehatan," tambahnya.

Menurut Asnawi, perkembangan teknologi AI juga harus diiringi dengan aspek keamanan dan pengawasan secara berkelanjutan selama penggunaannya.

Hal senada disampaikan Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama. Dia menegaskan bahwa AI tidak ditujukan untuk menggantikan tenaga profesional, melainkan membantu meningkatkan kemampuan mereka.

"AI is not replacing, AI is helping, enhancing. Jangan salah diartikan. Mungkin kalau dari kami, sebenarnya yang kita lakukan adalah kita terus mengembangkan produk-produk yang dilengkapi dengan AI," ujar David.

AI Mulai Diterapkan dalam Alur Kerja Medis

David mengatakan bahwa manfaat dan efisiensi AI mulai dirasakan melalui integrasinya ke dalam workflow atau alur kerja medis di berbagai fasilitas kesehatan.

Salah satu penerapannya adalah teknologi Smart ICU dalam program Hospital for the Future di Siloam yang bekerja sama dengan Philips.

Sistem berbasis AI yang terhubung dengan perangkat medis tersebut dapat membantu memprediksi potensi penurunan kondisi pasien hingga 30 menit sebelum terjadi.

AI juga mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan rekam medis elektronik. Dokter tidak lagi harus mengetik seluruh catatan medis secara manual.

Percakapan antara dokter dan pasien dapat direkam, kemudian dikonversi menjadi catatan medis dan diterjemahkan dengan tingkat akurasi lebih dari 90 persen, kata David.

Meski teknologi semakin berkembang, David menegaskan bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan berkelanjutan tetap menjadi bagian penting dalam penerapan AI di sektor kesehatan.

"Kalau dari segi yang paling penting kan klinisnya, tetap dipegang oleh dokter. Dokter yang memakai AI akan lebih efektif, akan lebih mungkin cepat," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya