Liputan6.com, Jakarta - Kimpul tengah viral di media sosial dan menarik perhatian sebagai salah satu pangan lokal yang kembali dilirik. Tak hanya bisa diolah menjadi beragam makanan, umbi satu ini juga memiliki potensi menjadi pilihan sumber karbohidrat selain nasi.
Namun, kimpul dinilai lebih tepat menjadi bagian dari diversifikasi pangan, bukan sepenuhnya menggantikan nasi seperti disampaikan ahli gizi yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Program Studi Gizi Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh.
Advertisement
"Sebenarnya, potensi kimpul cukup besar sebagai sumber karbo alternatif, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran ‘Kalau belum makan nasi, berarti belum makan’, sepertinya kimpul hanya lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti beras atau nasi,” ujar Lailatul.
Kimpul memiliki potensi gizi yang tinggi karena kandungan serat dan karakteristik pati yang bagus. Namun, dari sisi penerimaan, kepraktisan, pengolahan, dan kebiasaan makan masyarakat Indonesia masih kalah dari nasi.
Kimpul Rendah Lemak Tinggi Protein
Ahli Gizi IPB University sekaligus pakar Nutrition and Food Safety, Prof. Ahmad Sulaeman, kimpul memiliki indeks glikemik yang rendah. Indeks glikemik menggambarkan seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi.
Ahmad juga menyebut kimpul memiliki kandungan protein yang relatif lebih tinggi, sementara kandungan lemaknya lebih rendah. Karakteristik tersebut membuat kimpul berpotensi digunakan sebagai salah satu pilihan makanan bagi pasien diabetes maupun yang tengah mengontrol berat badan.
"Kimpul juga mempunyai indeks glikemik yang rendah sehingga aman untuk penderita diabetes ataupun diet yang ketat lainya. Sementara itu kandungan proteinnya lebih tinggi, namun kandungan lemaknya lebih rendah sehingga baik untuk yang akan menurunkan berat badan," tutur Prof Ahmad kepada Kesehatan Liputan6.com.
Keunggulan Kimpul Lainnya
Prof Ahmad mengatakan kimpul memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dengan struktur pati yang mudah dicerna. Namun, di sisi lain, umbi ini juga mengandung pati resisten dalam jumlah tinggi.
"Keunggulan kimpul sebagai pangan lokal adalah umbi ini mengandung karbohidrat yang tinggi dengan struktur pati yang mudah dicerna, tapi juga mengandung pati resisten yang tinggi," ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, kimpul memiliki ukuran partikel pati yang kecil sehingga relatif lebih mudah dicerna dan disebut lebih ramah bagi lambung dibandingkan talas biasa.
Kimpul juga memiliki kandungan pati resisten tipe III yang lebih tinggi, terutama setelah melalui proses pemasakan dan kemudian didinginkan. Pati tersebut tidak langsung diserap menjadi gula di dalam tubuh, melainkan dapat mencapai usus besar.
Di usus besar, pati resisten dapat dimanfaatkan oleh bakteri baik sehingga mendukung kesehatan mikrobiota usus.
"Terutama saat dimasak dan didinginkan menyebabkan pati ini tidak diserap menjadi gula, tapi langsung menuju usus besar menjadi prebiotik, yaitu makanan untuk bakteri baik," jelas Ahmad.