Kurang Tidur Dianggap Sepele, Padahal Dampaknya Tak Main-Main

Kurang tidur kerap dianggap sepele. Padahal, kebiasaan ini bisa berdampak pada kesehatan tubuh dan mental.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 24 Agustus 2026, 17:28 WIB
Kurang tidur tidak hanya menyebabkan rasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, termasuk gangguan jantung dan mental. | unsplash.com

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian besar orang mungkin pernah terjaga sepanjang malam demi menyelesaikan tugas, pekerjaan, atau sekadar menggulir media sosial. Kurang tidur dapat membuat tubuh lemas dan sulit berkonsentrasi keesokan harinya.

Meski sering dianggap wajar, terutama di tengah kesibukan sehari-hari, tidur bukan sekadar waktu untuk mengistirahatkan mata. Saat tidur, tubuh memulihkan energi, memperbaiki sel, dan menjaga fungsi organ agar tetap optimal.

Jika pola tidur terus terganggu, kondisi fisik dan mental pun dapat terdampak.

Mengenal Sleep Deprivation

Sederhananya, sleep deprivation adalah kondisi ketika seseorang tidak mendapatkan waktu atau kualitas tidur yang cukup, mengutip laman Cleveland Clinic, Senin (24/8/2026).

Kebutuhan tidur berbeda berdasarkan usia. Bayi membutuhkan sekitar 14–17 jam tidur per hari. Anak usia 1–5 tahun membutuhkan 10–14 jam, termasuk tidur siang. Sementara itu, orang dewasa dianjurkan tidur selama 7–9 jam setiap malam.

Kurang tidur dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Sebagian orang sengaja terjaga dan mengurangi waktu tidurnya. Ada pula yang tidur dalam waktu cukup, tetapi kualitas tidurnya buruk sehingga tetap merasa mengantuk dan lemas setelah bangun.

Gejala Kurang Tidur

Kurang tidur dapat menimbulkan sejumlah gejala, antara lain:

  • Rasa lelah.
  • Mudah marah atau tersinggung.
  • Sulit berpikir, berkonsentrasi, dan mengingat.
  • Sakit kepala.
  • Microsleep, yaitu kondisi ketika seseorang tertidur selama beberapa detik dan dapat terjadi di tengah aktivitas.
  • Tangan gemetar.
  • Perilaku impulsif.

Dampak Kurang Tidur bagi Kesehatan

Kurang tidur mungkin pernah dialami banyak orang dan sering dianggap bukan masalah besar. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur, terutama jika berlangsung terus-menerus, dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, baik fisik maupun mental.

1. Jantung dan Sistem Peredaran Darah

Kurang tidur dalam jangka panjang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan kardiovaskular dan sistem peredaran darah. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko hipertensi dan kadar kolesterol tinggi.

2. Sistem Metabolisme

Orang yang mengalami kurang tidur kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2.

3. Sistem Imunitas

Tidur yang tidak cukup atau berkualitas buruk secara teratur dapat mengganggu fungsi pertahanan alami tubuh terhadap infeksi. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terserang penyakit.

4. Sistem Saraf

Sleep deprivation juga dapat meningkatkan sensitivitas terhadap rasa sakit. Artinya, seseorang yang kurang tidur dapat lebih mudah merasakan nyeri, baik nyeri ringan maupun yang lebih berat.

5. Otak

Kurang tidur juga dapat mengganggu fungsi otak. Meskipun para ahli masih terus mempelajari peran tidur terhadap fungsi otak, tidur diketahui menjadi bagian penting dalam proses belajar dan mengingat.

Sejumlah bukti juga menunjukkan adanya kaitan antara kurang tidur dan potensi perkembangan penyakit Alzheimer.

6. Kesehatan Mental

Dampak kurang tidur tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental.

Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih sulit mengelola dan memproses emosi serta pikiran. Kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap gejala depresi dan kecemasan (anxiety).

Selain enam dampak tersebut, kurang tidur juga dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah kondisi kesehatan, seperti:

  • Diabetes tipe 2.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Obesitas.
  • Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau gangguan pernapasan saat tidur.
  • Penyakit vaskular.
  • Stroke.
  • Serangan jantung.
  • Depresi dan kecemasan.
  • Kondisi yang melibatkan psikosis.

Cara Memperbaiki Pola Tidur

Kurang tidur dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Karena itu, penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing orang.

1. Perubahan Perilaku dan Gaya Hidup

Banyak orang dapat memperbaiki pola tidur dengan menyesuaikan kembali rutinitas dan kebiasaan sebelum tidur. Perubahan gaya hidup dan perilaku tidur dapat membantu mencegah atau mengatasi kurang tidur.

2. Penggunaan Obat-obatan

Pada kondisi tertentu, dokter dapat meresepkan obat untuk membantu seseorang mulai tidur atau mengembalikan pola tidur.

Beberapa obat juga dapat memengaruhi pola mimpi sehingga berpotensi mengurangi mimpi buruk atau gangguan tidur tertentu.

Namun, obat tidur dapat menimbulkan efek samping dan berpotensi menyebabkan ketergantungan. Karena itu, penggunaannya harus berdasarkan anjuran dan pengawasan tenaga medis.

3. Alat Bantu Pernapasan

Jika gangguan tidur sudah berkaitan dengan masalah pernapasan, seperti sleep apnea, penanganan dapat mencakup penggunaan alat tertentu.

Pilihan tersebut dapat berupa bantal atau penyangga khusus, mouthpiece untuk menyesuaikan posisi rahang, hingga alat positive airway pressure yang membantu menjaga saluran napas tetap terbuka saat tidur.

Konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah yang tepat untuk mengetahui penyebab gangguan tidur, memahami risikonya, serta menentukan penanganan yang sesuai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya