Selain Merokok, Kebiasaan Ini Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Ada sejumlah kebiasaan sehari-hari yang bisa menyebabkan muncul plak atau kerak di pembuluh darah yang bisa berisiko timbul penyakit jantung koroner.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 27 Agustus 2026, 08:58 WIB
Mengonsumsi makanan berlebihan dan tinggi lemak (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Merokok sudah lama dikenal sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung. Selain merokok, sejumlah kebiasaan sehari-hari atau gaya hidup ternyata dapat menyebabkan muncul plak atau kerak di pembuluh darah yang kemudian berisiko menjadi penyakit jantung koroner. 

“Jadi kalau rokok konvensional kan mostly permasalahan di sekitar paru saja, rokok yang elektrik itu permasalahan bisa ke organ lain. Jadi kami tetap menyarankan untuk setop merokok dengan metode apapun,” ujar dokter spesialis jantung, Maya Munigar Apandi dalam diskusi kesehatan di RS Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta pada Rabu (26/8/2026).

Selain merokok, hipertensi menjadi faktor risiko yang paling sering berkaitan dengan penyakit jantung koroner di Indonesia Hipertensi dapat membuat pembuluh darah menjadi kaku dan tidak fleksibel, sementara merokok juga dapat menyebabkan dinding pembuluh darah lebih sensitif dan rentan mengalami pembentukan plak.

“Belum lagi kalau makanannya gitu kan, lemak-lemak, gula-gula, tambah berproses dia menyebabkan plak atau kerak tersebut,” ucapnya.

Kemudian mengonsumsi makanan terlalu banyak dan tidak seimbang, misalnya terlalu tinggi gula, lemak, atau banyak karbohidrat.

“Jadi tidak dalam tanda kutip tidak sesuai porsi atau piring yang sering kita lihat di Kemenkes, itu kan ebenarnya panduan gizi seimbang, gimana jumlah proteinnya sekian ya, setengahnya itu serat, karbohidratnya sekian,” ujar Maya mengutip Antara.

Maya mengatakan salah satu pola makan yang direkomendasikan menekankan seimbang dalam arti asupan protein yang cukup, tinggi serat, rendah lemak, serta tidak berlebihan dalam mengonsumsi susu dan produk olahannya.

 

Kurang Tidur

Selain pola makan, faktor gaya hidup lain seperti istirahat juga perlu diperhatikan.

“Kalau istirahat kurang, tidur kurang, 5-10 tahun ke depan kita punya risiko sakit jantung. Mungkin enggak langsung sakit jantung, kita mulai dari hipertensi dulu biasanya. Karena kurang tidur ternyata sudah punya data yang berhubungan langsung nih dengan peningkatan risiko hipertensi di kemudian hari,” kata Maya.

Maya mengatakan pengelolaan stres merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pola hidup sehat. Setiap individu dinilainya memiliki mekanisme yang berbeda untuk meredakan stres seperti bepergian, makan, bernyanyi, atau membaca buku, hingga membutuhkan waktu sendiri di rumah untuk mengisi kembali energinya.

Maya juga mengimbau olahraga dilakukan secara teratur dengan mempertimbangkan kemampuan setiap individu.

Menurut Maya, pada individu yang tidak aktif atau bukan atlet, latihan sebaiknya dimulai dari intensitas rendah kemudian ditingkatkan secara perlahan. Misalnya, dari 30 menit menjadi 45 menit atau dari tiga kali seminggu menjadi empat hingga lima kali.

Konsistensi, lanjut Maya, lebih penting daripada olahraga yang hanya dilakukan sesekali karena manfaatnya lebih optimal dan risiko cedera atau sakit juga lebih rendah.

“Mengontrol faktor risiko kalau memang punya, misalnya darah tinggi, kencing manis, kolesterol itu wajib dikontrol semua harus optimal diusahakan ya,” tutur dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya