Liputan6.com, Jakarta - Kanker payudara tidak hanya menyerang wanita lansia atau menopause. Perempuan usia muda juga tidak sepenuhnya bebas dari risiko penyakit ini.
Ahli bedah payudara dari Solis Breast Care Centre Singapura, dokter Lim Sue Zann, mengungkapkan bahwa kasus kanker payudara pada wanita usia produktif terus menunjukkan peningkatan. Banyak pasien yang datang berkonsultasi di rentang usia 20 hingga 30-an tahun.
Advertisement
Lim membagikan pengalamannya saat menangani pasien yang masih sangat muda namun sudah terdiagnosis kanker stadium lanjut.
"Jumlah pasien yang muda-muda, wanita 20-30an, semakin banyak. Kita di Solis, mendapati pasien yang sangat muda. Seperti (umur) 30 lebih sudah breast cancer stage 3," tutur Lim
"Jadi, kita tidak boleh bilang perempuan yang muda tidak akan terkena kanker payudara," terang Lim dalam diskusi media bertajuk “Diagnosis Tepat, Langkah Lebih Pasti: Memahami Pentingnya Akurasi dalam Kanker Payudara” di Jakarta pada Jumat (28/8/2026).
Mitos Kanker Payudara
Salah satu alasan utama mengapa pasien muda terlambat mendapatkan penanganan medis adalah minimnya kewaspadaan serta pemahaman yang keliru.
Saat menemukan benjolan, tak jarang kawan atau kerabat yang berusaha menenangkan dengan alasan tidak berdasar, yakni menganggap benjolan di usia muda cenderung bersifat jinak.
Selain itu, riwayat keluarga tidak menjadi faktor utama. Lim menyebutkan bahwa kanker payudara tidak selalu hadir karena catatan riwayat pada anggota keluarga sebelumnya.
Seperti yang dia katakan tentang pasiennya yang berusia 30-an, dengan anak masih berusia dini, dia sudah mengidap kanker payudara di usia 32.
"No family history, tapi di usia 32 dia kena breast cancer. Ada satu benjolan. Setelah itu, temannya ada yang bilang, 'Ah, untuk umur kita, benjolan itu memang jinak, memang aman, bukan cancer',” kata Lim.
Meski demikian, Lim menegaskan bahwa benjolan di area payudara memang belum tentu kanker atau tumor ganas namun ia mengimbau untuk tetap waspada.
“Tapi, kita perlu membedakan dia. Tidak semua benjolan berarti kanker, tapi tidak merasa sakit berarti tidak ada kanker payudara itu belum tentu juga. Benjolan yang tak sakit, tetap ada kemungkinan. So, mesti diperiksa," tegas Lim.
Ketiadaan rasa sakit (painless lump) kerap terasa menjebak. Kanker payudara pada stadium awal umumnya memang tidak menimbulkan rasa nyeri sama sekali.
Rasa sakit biasanya baru muncul ketika ukuran tumor sudah membesar atau menekan jaringan di sekitarnya.
Segera Periksakan Sebelum Terlambat
Kesadaran untuk langsung memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan saat menemukan kejanggalan adalah kunci keselamatan utama.
Selain benjolan, gejala lain seperti perubahan tekstur kulit di area dada, cairan bening atau berdarah yang keluar dari puting, hingga kemerahan di area sekitar aerola wajib diwaspadai.
Memeriksakan benjolan sejak dini tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memperbesar peluang pasien untuk dapat mempertahankan jaringan payudaranya tanpa perlu diangkat secara keseluruhan.
“Kanker payudara bukan berarti akhir dari segalanya. Deteksi dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan,” tegas Lim.