Kanker Payudara adalah Penyakit yang Sering Terlambat Terdeteksi, Kenali Tandanya

Deteksi dini kanker payudara dapat meningkatkan peluang sembuh. Simak tanda-tandanya.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 06:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kanker payudara adalah penyakit yang terjadi ketika sel-sel di jaringan payudara tumbuh secara tidak terkendali hingga membentuk tumor ganas. Kanker payudara masih menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan, terutama pada usia produktif 40 hingga 50 tahun.

"Sayangnya, sekitar 43 persen kasus baru di Indonesia baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium lanjut," kata Dokter Spesialis Bedah Onkologi di IHC Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), dr. Arman Mukhtar, Sp.B(K).Onk., kepada Kesehatan Liputan6.com pada Rabu (5/8/2026) 

Arman mengatakan bahwa sebagian besar kasus sebenarnya memiliki peluang penanganan yang baik jika terdeteksi sejak dini. Namun, minimnya pemahaman masyarakat serta kekhawatiran terhadap proses pemeriksaan, termasuk rasa tidak nyaman saat skrining, masih membuat banyak orang menunda memeriksakan diri.

"Banyak orang menunda periksa karena merasa tidak ada rasa sakit. Padahal, pada tahap awal, benjolan atau perubahan jaringan memang kerap kali tidak menimbulkan nyeri sama sekali. Di sinilah pentingnya kita mengenali tubuh sendiri secara berkala," ujar Arman.

Ciri-Ciri Benjolan Kanker Payudara Letaknya Dimana?

Arman menjelaskan bahwa tidak ada lokasi yang benar-benar khas untuk benjolan kanker payudara. Meski paling sering ditemukan di bagian atas sisi luar payudara yang mengarah ke ketiak, benjolan juga dapat muncul di bagian tengah, sisi dalam, maupun area lainnya.

"Jadi, jangan hanya memeriksa satu bagian tertentu. Seluruh area payudara tetap harus diperhatikan," katanya.

Pada stadium awal, kanker payudara umumnya ditandai dengan benjolan yang terasa keras, berbatas tidak tegas, dan tidak mudah digerakkan.

Kondisi ini juga dapat disertai perubahan pada kulit atau puting yang tertarik ke dalam. Sebagian pasien mengalami perubahan tekstur kulit menyerupai kulit jeruk (peau d'orange).

Arman mengatakan bahwa tanda-tanda tersebut paling sering ditemukan pada perempuan berumur di atas 40 hingga 45 tahun. Oleh sebab itu, setiap benjolan yang memiliki karakteristik tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele dan perlu segera diperiksakan ke dokter.

"Kalau pada usia di atas 40 atau 45 tahun ditemukan benjolan yang keras, berbatas tidak tegas, disertai kulit atau puting yang tertarik, kita harus sangat curiga ke arah keganasan," ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi menjadi lebih mengkhawatirkan apabila benjolan sudah disertai luka pada payudara.

"Apalagi kalau sudah ada luka. Kalau sudah ada luka, pasti ganas. Seratus persen ganas," ujar Arman.

 

Apa Saja Jenis Pemeriksaan untuk Mendeteksi Kanker Payudara?

Oleh sebab itu, Arman mengimbau masyarakat agar tidak takut melakukan deteksi dini kanker payudara. Menurutnya, deteksi dini dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI), Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS), hingga skrining menggunakan USG maupun mammografi sesuai usia dan kondisi masing-masing.

1. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

SADARI merupakan langkah awal yang dapat dilakukan sendiri di rumah setiap bulan. Waktu terbaik melakukannya adalah pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama menstruasi, saat jaringan payudara berada dalam kondisi paling rileks.

Saat melakukan SADARI, perhatikan apakah terdapat perubahan bentuk atau ukuran payudara, perubahan tekstur kulit seperti peau d'orange, munculnya benjolan, atau keluarnya cairan yang tidak normal dari puting.

2. Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS)

Jika menemukan perubahan pada payudara atau masih merasa ragu setelah melakukan SADARI, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk mengevaluasi kondisi kelenjar getah bening di area ketiak untuk membantu memastikan kondisi klinis pasien.

3. Skrining dengan USG dan Mammografi

Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis secara lebih akurat.

USG mammae umumnya direkomendasikan bagi perempuan berumur di bawah 35 tahun, ibu hamil, atau ibu menyusui karena tidak menggunakan radiasi. Pemeriksaan ini juga dapat membantu membedakan benjolan padat dengan benjolan berisi cairan.

Sementara itu, mammografi masih menjadi standar emas untuk skrining kanker payudara pada perempuan berumur 40 tahun ke atas.

Pemeriksaan ini mampu mendeteksi lesi maupun mikrokalsifikasi berukuran sangat kecil, bahkan sebelum benjolan dapat dirasakan melalui perabaan.

Di tempat praktiknya,  Arman menggunakan teknologi 3D Mammography System Fujifilm AMULET Innovality yang dilengkapi fitur PET Soft Compression Paddle. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien selama pemeriksaan sehingga dapat mengurangi kekhawatiran terhadap rasa tidak nyaman saat menjalani mammografi.

"Deteksi dini bukan tentang mencari penyakit, melainkan tentang memberi diri kita kesempatan terbaik untuk tetap sehat dan beraktivitas bersama keluarga," pungkas Arman.